Lebak- stpdnlebakbanten.ac.id- stpdnnews- Sekolah Tinggi Pesantren Darunna’im menggelar Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) bagi mahasiswa baru tahun akademik ini. Kegiatan tersebut mengangkat tema besar “Membangun Generasi Unggul yang Kreatif, Kritis, Inovatif, dan Berkarakter di Era Transformasi Digital”, sebagai landasan bagi mahasiswa baru dalam menghadapi dunia perkuliahan sekaligus tantangan zaman yang serba digital, Jum’at (11/9/2026).


PBAK berlangsung selama beberapa hari di lingkungan kampus Sekolah Tinggi Pesantren Darunna’im (STPDN) dan diikuti oleh seluruh mahasiswa baru dari berbagai Program Studi. Kegiatan ini menjadi gerbang awal bagi mahasiswa untuk mengenal budaya akademik, nilai-nilai kepesantrenan, serta ekosistem kemahasiswaan yang akan mereka jalani selama menempuh pendidikan tinggi.
Ketua Pelaksana PBAK, Syarif, Mengucapkan selamat datang serta selamat bergabung kepada mahasiswa baru sebagai bagian dari keluarga besar kampus. Tujuan PBAK: Kegiatan ini bukan sekadar seremonial, melainkan langkah awal untuk mengenalkan budaya akademik, kehidupan kemahasiswaan, disiplin, etika, dan semangat berorganisasi. Harapan untuk Mahasiswa Baru: Mahasiswa diharapkan tidak hanya berfokus pada nilai akademik, tetapi juga membangun karakter, berpikir kritis, memperluas wawasan, berani berpendapat, bekerja sama, dan peduli pada masyarakat. Himbauan Panitia: Peserta diminta mengikuti seluruh rangkaian acara dengan semangat, disiplin, dan memanfaatkan PBAK untuk membangun relasi serta mengenal lingkungan kampus. Permohonan Maaf & Apresiasi: Ketua panitia menyampaikan permohonan maaf atas segala kekurangan dalam penyelenggaraan acara serta mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang berpartisipasi. Harapan agar acara berjalan lancar dan ajakan untuk bersama-sama mencetak generasi unggul yang kreatif, kritis, inovatif, dan berkarakter di era transformasi digital,” harapnya.
Perwakilan Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (MPM), Ja’far, mengucapkan selamat datang dan selamat bergabung kepada mahasiswa baru di STPDN. Mahasiswa diminta untuk mengubah pola pikir dari siswa menjadi mahasiswa dengan terus meningkatkan potensi diri (intelektual, prestasi, dan bidang lainnya). Mahasiswa diimbau aktif dan bersungguh-sungguh mengikuti kegiatan kampus untuk melatih jiwa akademik,” katanya.
”Ucapan dari Ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA), Yeyen, selamat datang kepada mahasiswa baru dan penekanan bahwa status mahasiswa membawa tanggung jawab moral yang besar terhadap orang tua, masyarakat, serta bangsa. Pengembangan Diri: Mahasiswa dituntut tidak hanya berprestasi di bidang akademik, tetapi juga aktif mengasah soft skills, kepemimpinan, dan kepedulian sosial. Peran DEMA: Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) hadir sebagai wadah berproses, berorganisasi, dan menyuarakan aspirasi. Pesan PBAK: Mahasiswa diminta memanfaatkan PBAK untuk mengenal lingkungan kampus, menyerap budaya akademik yang kritis dan inklusif, serta memperluas relasi dengan semangat dan integritas,” tambah Yeyen.
Dalam sambutannya, Ketua Sekolah Tinggi Pesantren Darunna’im, Dr. Dadan Sunandar, L.c., M.A. menegaskan bahwa tema PBAK tahun ini dipilih untuk menjawab kebutuhan zaman. “Generasi unggul di era transformasi digital bukan hanya mereka yang cakap secara akademik, tetapi juga mereka yang mampu berpikir kritis, kreatif, inovatif, dan tetap berpegang pada karakter serta nilai-nilai keislaman yang menjadi ciri khas pesantren,” ungkapnya di hadapan para mahasiswa baru.
Budaya Akademik
Materi budaya akademik menjadi salah satu inti dari PBAK. Beberapa poin yang ditekankan kepada mahasiswa baru antara lain:
1. Etika Perkuliahan: mahasiswa diingatkan mengenai pentingnya kedisiplinan, kejujuran akademik dengan menghindari plagiarisme, serta sopan santun dalam berkomunikasi dengan dosen maupun sesama mahasiswa, baik secara langsung maupun melalui platform daring.
2. Cara Belajar di Perguruan Tinggi: mahasiswa baru dituntut lebih mandiri dalam mengatur waktu belajar, memanfaatkan referensi ilmiah, serta aktif berdiskusi di kelas maupun kelompok studi.
3. Relasi dengan Dosen: mahasiswa diajarkan cara berkomunikasi yang sopan dan profesional dengan dosen, termasuk memahami jam konsultasi akademik.
4. Adaptasi di Era Transformasi Digital: mahasiswa didorong memanfaatkan teknologi secara bijak dalam belajar, mencari referensi, maupun berorganisasi, tanpa meninggalkan nilai-nilai kejujuran dan karakter yang menjadi identitas kampus berbasis pesantren.
Dalam kegiatan tersebut, Dr. Ahmad Fitriyadi Sari, S.Si., M.Pd., Wakil I Bidang Akademik STPDN, menyampaikan materi bertajuk “Akademik di Era Transformasi Digital: Membangun Generasi Unggul yang Kreatif, Kritis, dan Berkarakter.”
Budaya Akademik Bukan Sekadar Nilai
Dr. Ahmad menegaskan bahwa kehidupan akademik di perguruan tinggi tidak hanya berorientasi pada pencapaian nilai, tetapi merupakan proses pembentukan cara berpikir dan karakter mahasiswa.
“Akademik bukan sekadar nilai, tetapi proses membentuk cara berpikir dan karakter.”
Menurutnya, mahasiswa perlu memahami budaya akademik melalui empat prinsip utama, yakni berpikir, belajar, berkarya, dan beretika. Keempat aspek tersebut menjadi dasar dalam membangun mahasiswa yang mampu berpikir berdasarkan alasan, data, dan argumentasi; belajar secara mandiri dan berkelanjutan; menghasilkan gagasan serta karya; sekaligus menjunjung tinggi etika akademik.
Mahasiswa Didorong Menjadi Pencipta
Dalam pemaparannya, Dr. Ahmad juga mengajak mahasiswa untuk mengubah pola belajar dari sekadar menerima informasi menjadi pribadi yang mampu menciptakan gagasan dan solusi.
Mahasiswa tidak hanya diarahkan untuk mencari jawaban atas suatu persoalan, tetapi juga dibiasakan mengajukan pertanyaan kritis, seperti mengapa suatu persoalan terjadi dan bagaimana membuktikan kebenarannya.
Ia menekankan pentingnya membaca sumber primer, membandingkan berbagai perspektif, serta menyusun kesimpulan secara mandiri. Diskusi akademik, lanjutnya, bukan ruang untuk menentukan siapa yang menang atau kalah, melainkan sarana untuk menemukan kebenaran an solusi.
Penguatan Kompetensi Abad ke-21
Menghadapi perubahan dunia pendidikan dan tuntutan era digital, mahasiswa juga perlu menguasai kompetensi abad ke-21 yang meliputi critical thinking, creative thinking, communication, dan collaboration.
Critical thinking diperlukan untuk menguji informasi dan argumentasi. Creative thinking mendorong mahasiswa menghasilkan gagasan dan solusi. Communication diperlukan agar gagasan dapat disampaikan secara efektif, sedangkan collaboration membangun kemampuan bekerja bersama dengan berbagai perspektif.
Literasi Digital dan Pemanfaatan AI secara Etis
Salah satu perhatian utama dalam materi PBAK adalah kemampuan mahasiswa menggunakan teknologi digital secara cerdas dan bertanggung jawab.
Dr. Ahmad memperkenalkan lima prinsip literasi digital, yaitu VERIFY, COMPARE, CITE, CREATE, dan PROTECT. Mahasiswa perlu memverifikasi sumber dan bukti, membandingkan informasi dari berbagai sumber, mencantumkan sitasi, memanfaatkan teknologi dan AI sebagai alat bantu berpikir, serta menjaga privasi dan keamanan digital.
Terkait penggunaan kecerdasan buatan atau AI, mahasiswa diingatkan bahwa teknologi tersebut dapat dimanfaatkan untuk membantu proses akademik, seperti brainstorming, penyusunan struktur tulisan, penjelasan konsep, dan pemberian umpan balik awal.
Namun demikian, tanggung jawab akademik tetap berada pada mahasiswa. Kebenaran isi, sumber, analisis, dan hasil akhir harus dapat dipertanggungjawabkan oleh mahasiswa sebagai penulis atau penghasil karya.
“AI membantu proses berpikir; manusia memegang kendali dan tanggung jawab.”
Integritas Menjadi Fondasi
Selain penguasaan kompetensi, integritas akademik menjadi bagian penting dalam pembentukan karakter mahasiswa. Kejujuran, antiplagiarisme, tanggung jawab, dan adab ilmiah ditekankan sebagai prinsip yang harus diterapkan dalam kehidupan akademik.
Mahasiswa diingatkan untuk menghindari praktik menyontek, pemalsuan data, pengadaan sumber yang tidak valid, serta plagiarisme. Pada saat yang sama, mahasiswa harus mampu menghargai dosen, sesama mahasiswa, narasumber, dan perbedaan pendapat.
Lima Kebiasaan Menuju Mahasiswa Unggul
Sebagai bagian dari penguatan budaya akademik, mahasiswa baru diajak membangun lima kebiasaan utama, yaitu READ, THINK, DISCUSS, CREATE, dan REFLECT.
Kelima prinsip tersebut mencakup kebiasaan membaca setiap hari, menguji dan mengolah informasi, membangun dialog, menghasilkan karya, serta melakukan refleksi dan evaluasi diri.
Melalui kegiatan PBAK ini, mahasiswa baru diharapkan tidak hanya memiliki kemampuan akademik yang baik, tetapi juga mampu menjadi insan akademik yang kreatif, kritis, berintegritas, dan berkarakter.
Pesan tersebut dirangkum dalam refleksi yang disampaikan kepada mahasiswa:
“Jadilah mahasiswa yang bukan hanya pandai menjawab, tetapi mampu menemukan pertanyaan yang tepat.”
Dengan demikian, PBAK STPDN 2026 menjadi salah satu langkah awal bagi mahasiswa baru untuk membangun kebiasaan belajar, berpikir, berkarya, dan berkarakter sebagai bagian dari perjalanan akademiknya di perguruan tinggi.


Acara ditutup dengan foto bersama Civitas Akademika Sekolah Tinggi Pesantren Darunna’im (STPDN) Lebak-Banten.
Editor : E.M
Fotografer : Ahmad Tikal Dineja
(Red./Humas STPDN)
Tinggalkan Komentar