Info
Minggu, 01 Nov 2026
  • Selamat Datang di Website Sekolah Tinggi Pesantren Darunna'im - Perguruan Tinggi Islam yang Berkualitas di Provinsi Banten
  • Selamat Datang di Website Sekolah Tinggi Pesantren Darunna'im - Perguruan Tinggi Islam yang Berkualitas di Provinsi Banten

Urgensi Taubat dalam Tasawuf

http//stpdnrangkasbitung.ac.id/tasawuf

Urgensi Taubat dalam Tasawuf

Oleh. Ahmad Himawan,S.Ag.,M.A.,M.M., Dosen Sekolah Tinggi Pesantren Darunna’im

Taubat adalah permulaan dan akhir ( dan  seterusnya ) dari aktivitas Toriqoh (tasawuf) demikian  menurut mursyid thoriqoh Syazuliah yang juga seorang wakil rektor universitas tertua di dunia Qurowiyin  Maroko Maulana seikh Prof.DR.Idris Bin Muhammad Said al Fihri al Fasi.  Para aimmah toriqoh ( para pemimpin toriqoh/tasawuf )  menyatakan bahwasanya  seluruh toriqoh yang ada saat ini disebut  atau di nisbahkan dengan    “toriqoh al muhammadiiy”. Karena ia bersumberkan dan akan menuju kepada suatu pangkal yang sama  yaitu baginda Nabi Muhammad SAW. Kata Toriqoh yang kita kenal sekarang  bukanlah  bermakna dari kata muannast dari kalimat  “toriiq” yang bermakna “jalan”, tapi dia  adalah memang sebuah jalan yang dipanjangkan dan dibentangkan oleh Allah swt untuk kita, yang dengannya kita  akan naik menuju ke “langit”, : sebagaimana firman Allah dalam surat al Jin : 16

 

وَّاَنْ لَّوِ اسْتَقَامُوْا عَلَى الطَّرِيْقَةِ لَاَسْقَيْنٰهُمْ مَّاۤءً غَدَقًاۙ

“Dan sekiranya mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu ( menuju makrifatullah), niscaya Kami akan mencurahkan kepada mereka air yang cukup.”

 

Di dalam konsepsi sebuah toriqoh,  terdapat beberapa maqomat atau station,  menurut seikh Idris al Faasi “ maqom taubat  adalah sebuah aktivitas yang menjadi   permulaan dan akhir dari perjalanan seorang salik”. Taubat  ini merupakan sarana untuk tazkiyah    ( pembersihan ) yang   bertujuan untuk membersihkan diri/hati atau jiwa.  Dengan  bertaubat, baik itu  taubat dari dosa besar  atau dari dosa yang kecil, ataupun  dosa dari hati yang  kotor. Maka akan bersihlah ia,  Bagi siapa yang dapat membersihkan diri maka ia akan naik ke maqom yang lebih tinggi.  Dan seluruh ahli toriqoh wajib untuk membersihkan diri , jika belum di bersihkan maka ia akan dibersihkan baik di api neraka nanti  atau dengan cara lain saat ini.

Untuk itu seikh Idris melanjutkan  Bahwasanya Allah telah memberikan semacam 3 sungai bagi orang mukmin dimana jika ia mandi membersihkan  diri di tiga sungai tersebut itu   bearti ia telah   membersihkan dirinya dan bersiap untuk masuk ke dalam Jannatu nai’im.

Sungai yang pertama yaitu istighfar ( mohon ampunan), kita di perintahkan  oleh Allah SWT sebagimana telah dilakukan oleh baginda nabi dan para sahabat untuk berisighfar sebanyak banyaknya dimana saja berada dan kapan saja  karena kita tidak tahu istighfar yang manakah  yang akan diterima oleh Allah Swt.  Untuk aktivitas istighfar ini meskipun terkesan mudah tapi ia  sendiri   ada tiga level tingkatan dalam melakukannya  yaitu mudah, agak susah dan berat. Orang yang beristighfar akan diberikan ampunan oleh Allah SWT, karena Allah itu adalah Maha pengampun,  Orang yang sering dan  mudah melakukan istighfar  bearti selalu di bersihkan dan akan mudah melanjutkan dengan aktifitas  berzikir dan sholat. ( al-A’la : 15  )e4

Sungai yang kedua yaitu  adalah diperintahkan untuk  berbuat kebajikan , ( innal hasanaat yuzhibna  syayyiaat ) sesungguhnya kebajikan itu akan menghapus daripada perbuatan  yang jahat, karena sesuai dengan al quran ( surat al Huud : 114 )  kejahatan akan dihapuskan  jika di ikuti dengan kebajikan. Dan Allah SWT juga tidak akan berbuat dholim kepada kita jika berbuat kebajikan sekecil apapun tetap akan di balasnya.

Sungai yang ketiga adalah ibtila’ (ujian- cobaan ) orang yang di uji dengan musibah dan jika ia bersabar maka ia juga  akan diampuni oleh Allah SWT. Tidak akan ditimpakan sesuatu musibah kepada seseorang hamba bahkan ketika ia tertancap dengan sebuah duri dikaki , melainkan dihapuskan oleh Allah dosa dosanya, dan dengan syarat setelah itu ia ridho dan iklhas dengan ujian tersebut,  barang siapa ingin bersih dari dosa kepada Allah ta’ala hendaklah ia ridho dengan segala keputusannya.

Waalhua’lamubisosowab

Pamulang , Tangerang Selatan 20 Agustus 2022

 

Share:

Artikel Terkait

Empat Cara Mengenali Penyakit Hati Pada Diri Sendiri Perspektif Imam Ghazali
Empat Cara Mengenali Penyakit Hati Pada Diri Sendiri Perspektif Imam Ghazali
Pernahkah kita begitu mudah melihat kesalahan orang lain, tetapi kesulitan menemukan kesalahan dalam...
Kebutuhan Akan Penghargaan: Ketika Sesorang Ingin Merasa Berarti
Kebutuhan Akan Penghargaan: Ketika Sesorang Ingin Merasa Berarti
      Setelah kebutuhan dasar, rasa aman, dan kebutuhan untuk memiliki hubungan dengan...
Mengenal Konsep Minat Sosial Perspektif Alfred Adler
Mengenal Konsep Minat Sosial Perspektif Alfred Adler
      Pernahkah Anda bertemu dengan seseorang yang dari luar tampak memiliki kehidupan...
Kekuatan Pygmalion Efect Dalam Komunikasi
Kekuatan Pygmalion Efect Dalam Komunikasi
    Pernahkah Anda memperhatikan bahwa cara kita memandang seseorang ternyata bisa mempengaruhi...
Lebih Dari Sekedar Gerakan: Menemukan Jiwa Dan Spiritualitas Dalam Setiap Rakaat Shalat
Lebih Dari Sekedar Gerakan: Menemukan Jiwa Dan Spiritualitas Dalam Setiap Rakaat Shalat
    Bagi seorang Muslim, shalat adalah ibadah yang hadir begitu dekat dalam kehidupan sehari-hari....
Ketika Ego Diam Menguasai Diri: Mengenali Kesombongan Dari Perspektif Psikologi Islam
Ketika Ego Diam Menguasai Diri: Mengenali Kesombongan Dari Perspektif Psikologi Islam
Ada satu jenis kesombongan yang tidak selalu terlihat dari cara berpakaian, mobil yang dikendarai, rumah...
Ketika Keberadaan Kita Tidak Dianggap
Ketika Keberadaan Kita Tidak Dianggap
    Bayangkan suatu ketika Anda datang ke acara kumpul warga, reuni sekolah, atau sekadar pertemuan...
Wudhu: Bersuci Lahir dan Batin
Wudhu: Bersuci Lahir dan Batin
  PENGANTAR   Sebelum seorang Muslim berdiri menghadap Allah Swt. dalam shalat, ada persiapan...
Senyummu di Hadapan Saudaramu Adalah Sedekah: Ketika Kebaikan Dimulai dari Garis Bibir
Senyummu di Hadapan Saudaramu Adalah Sedekah: Ketika Kebaikan Dimulai dari Garis Bibir
    Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering memahami sedekah sebagai sesuatu yang berkaitan...
Tawadhu: Rendah Hati, Bukan Rendah Diri
Tawadhu: Rendah Hati, Bukan Rendah Diri
    Di era media sosial seperti sekarang, kita hidup dalam ruang yang hampir selalu mendorong...

Berita Terbaru

Berita UKM Terbaru

x