Pernahkah kita begitu mudah melihat kesalahan orang lain, tetapi kesulitan menemukan kesalahan dalam diri sendiri?. Kita cepat mengatakan seseorang sombong. Kita mudah menilai orang lain terlalu sensitif. Kita terganggu melihat seseorang gemar pamer. Namun, ketika sifat-sifat itu muncul dalam diri sendiri, tiba-tiba kita punya banyak alasan. “Saya bukan sombong, saya hanya percaya diri”, “Saya bukan marah, saya sedang tegas”, “Saya bukan pamer, saya hanya berbagi.”, “Saya bukan sulit menerima kritik, saya hanya sedang mempertahankan prinsip”. Begitulah manusia, ketika melihat kesalahan orang lain, mata kita sering kali sangat tajam. Tetapi ketika harus melihat kekurangan diri sendiri, pandangan kita mendadak menjadi kabur.
Jauh sebelum psikologi modern banyak membicarakan tentang self-awareness dan keterbatasan manusia dalam mengenali dirinya, Imam Al-Ghazali telah memberi perhatian besar pada persoalan ini. Dalam Ihya’ ‘Ulumuddin, ia mengajak manusia untuk tidak hanya sibuk memperbaiki apa yang tampak di luar, tetapi juga memeriksa apa yang terjadi di dalam dirinya.
Sebab, menurut Al-Ghazali, perilaku manusia tidak dapat dilepaskan dari kondisi batinnya. Hati (qalb), jiwa (nafs), ruh, dan akal memiliki posisi penting dalam kehidupan manusia. Kajian Saari (1998) menunjukkan bahwa konsep-konsep tersebut menjadi bagian penting dalam pemikiran Al-Ghazali mengenai kehidupan spiritual manusia. Dengan kata lain, masalah kita terkadang bukan karena tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah. Kita tahu. Masalahnya adalah kita tidak selalu bersedia mengakui bahwa kesalahan itu mungkin juga ada dalam diri kita. Lalu, bagaimana cara mengenali aib yang sering tersembunyi dari pandangan kita sendiri?
Ketika Diri Sendiri Menjadi Wilayah yang Sulit Dibaca
Mengenal diri ternyata tidak sesederhana melihat ke dalam hati lalu menemukan semua jawabannya. Ada sifat-sifat yang kita sadari, tetapi kita biarkan. Ada pula yang bahkan tidak kita sadari karena sudah terlalu lama menjadi kebiasaan. Kita mungkin merasa sebagai orang yang sabar karena jarang membentak. Padahal, kita bisa saja menyimpan kemarahan dalam bentuk sindiran. Kita merasa rendah hati karena tidak suka membicarakan prestasi. Tetapi diam-diam kita kecewa ketika orang lain tidak mengakui kemampuan kita. Kita merasa ikhlas membantu orang lain. Namun ketika tidak mendapatkan ucapan terima kasih, hati terasa berat.
Al-Ghazali melihat bahwa mengenali diri merupakan bagian penting dari perjalanan spiritual. Konsep ma‘rifatun nafs bukan sekadar mengetahui siapa diri kita, tetapi juga memahami kecenderungan jiwa dan kondisi batin yang mempengaruhi perilaku (Nafi et al., 2022). Di sinilah perjalanan memperbaiki diri dimulai. Bukan ketika kita berhasil menemukan seribu kesalahan orang lain, melainkan ketika kita berani bertanya, bagaimana dengan saya?.
- Miliki Guru atau Pembimbing yang Berani Menunjukkan Kekurangan Kita
Salah satu cara yang ditunjukkan Al-Ghazali adalah belajar kepada orang yang memiliki ilmu, pengalaman, dan kejernihan dalam membimbing kehidupan batin. Dalam tradisi tasawuf, seorang guru tidak hanya berfungsi sebagai tempat bertanya tentang pengetahuan agama. Ia juga diharapkan mampu membantu seseorang melihat dirinya dengan lebih jernih, termasuk melihat penyakit hati yang sering sulit dikenali sendiri.
Mengapa kita membutuhkan orang lain, Karena ada hal-hal dalam diri yang sulit kita lihat ketika kita menjadi sekaligus “subjek” dan “objek” penilaian. Kita mungkin merasa sudah ikhlas. Guru bisa bertanya, “Mengapa Anda kecewa ketika tidak dipuji?”. Kita merasa sudah rendah hati, guru mungkin bertanya, “Mengapa Anda begitu ingin dianggap rendah hati?”. Pertanyaan seperti itu kadang terasa sederhana, tetapi bisa sangat mengusik.
Kajian Saari (1998) mengenai pemikiran Al-Ghazali menunjukkan bahwa qalb, ruh, dan nafs, merupakan bagian penting dalam memahami manusia secara spiritual. Karena itu, pembinaan diri tidak cukup hanya dengan mengubah perilaku yang tampak, tetapi juga membutuhkan perhatian terhadap kondisi batin.
Namun, menjadi penting untuk digarisbawahi, tidak setiap orang yang mengaku sebagai guru spiritual otomatis layak dijadikan pembimbing. Guru yang baik semestinya membantu seseorang semakin mengenal dirinya, semakin matang dalam berpikir, dan semakin baik akhlaknya, bukan semakin bergantung secara buta kepada gurunya.
- Cari Sahabat yang Tidak Takut Kehilangan Kita karena Kejujuran
Ada orang yang hadir untuk membuat kita nyaman, ada pula orang yang hadir untuk membuat kita bertumbuh. Keduanya sama-sama penting, tetapi tidak selalu sama. Al-Ghazali memberi perhatian pada pentingnya memiliki sahabat yang jujur, seseorang yang berani menunjukkan kekurangan kita tanpa niat merendahkan. Sahabat seperti ini mungkin tidak selalu mengatakan “Kamu hebat”, Kadang ia justru berkata “Kamu tadi keterlaluan”, Atau “Menurut saya, kamu perlu meminta maaf”.Kalimat seperti itu mungkin membuat kita tidak nyaman, bahkan reaksi pertama kita mungkin adalah membela diri. Tetapi justru di situlah latihan kerendahan hati dimulai.
Dalam kajian mengenai “ma‘rifatun nafs”, Nafi, Mulyani, dan Afifah (2022) menunjukkan bahwa mengenali diri tidak hanya dilakukan melalui introspeksi, tetapi juga dapat melibatkan pandangan orang lain terhadap diri kita. Maka, sesekali kita perlu memiliki seseorang yang boleh mengatakan sesuatu yang mungkin tidak ingin kita dengar. Bukan untuk menjatuhkan, justru agar kita tidak terlalu nyaman dengan versi diri yang kita ciptakan sendiri.
- Jangan Selalu Membuang Kritik dari Orang yang Tidak Menyukai Kita
Ini salah satu gagasan Al-Ghazali yang terasa sangat relevan dengan kehidupan hari ini. Kita hidup di zaman ketika kritik sering dianggap sebagai serangan. Ketika seseorang mengkritik kita, respons yang muncul kadang bukan “Benarkah”, Melainkan “Dia iri”, “Dia tidak suka saya”, “Dia memang punya masalah dengan saya.”. Mungkin saja benar, tetapi mungkin juga tidak sepenuhnya benar.
Karena itu, Al-Ghazali mengajarkan sikap yang menarik, bahkan ucapan orang yang tidak menyukai kita dapat dimanfaatkan untuk menemukan kekurangan diri. Tentu bukan berarti semua tuduhan harus dipercaya. Jika seseorang berkata kita sombong, misalnya, tidak berarti kita otomatis sombong. Tetapi tidak ada salahnya berhenti sebentar dan bertanya “Apa yang membuat dia melihat saya seperti itu?” Bisa jadi tuduhannya keliru. Bisa juga ada sedikit kebenaran di dalamnya. Dan kalau ternyata ada sedikit saja kebenaran, bukankah itu tetap layak diperiksa?
Kajian Subandi, Derin, dan Setiyawati (2024) terhadap pemikiran Al-Ghazali menunjukkan betapa serius perhatian Al-Ghazali terhadap penyakit hati. Mereka mengidentifikasi berbagai bentuk penyakit hati spiritual dalam Ihya’ ‘Ulumuddin, yang menunjukkan bahwa bagi Al-Ghazali, persoalan batin bukan sesuatu yang sepele dalam pembentukan perilaku manusia. Maka, kritik bisa menjadi alarm, bukan untuk membuat kita rendah diri, tetapi untuk membantu kita mengetahui bagian diri mana yang perlu diperbaiki.
- Ketika Melihat Keburukan Orang Lain, Cobalah Bercermin
Kita sering belajar dari orang lain dengan cara yang keliru. Melihat orang sombong, kita berkata, “Jangan jadi seperti dia”. Melihat orang kasar, kita berkata, “Untung saya tidak seperti itu”. Melihat orang suka pamer, kita merasa lebih baik karena kita tidak melakukan hal yang sama. Padahal, ada cara yang lebih dalam. Ketika melihat seseorang melakukan sesuatu yang kita benci, tanyakan, Apakah saya juga memiliki kecenderungan seperti itu? Mungkin bentuknya berbeda. Kita tidak pamer harta, tetapi mungkin suka memamerkan pencapaian. Kita tidak merendahkan orang secara terang-terangan, tetapi mungkin sering merasa lebih pintar daripada orang lain. Kita tidak marah dengan suara keras, tetapi mungkin menghukum orang lain dengan diam.
Inilah yang membuat proses “muhasabah” menjadi menarik. Orang lain dapat menjadi cermin bagi kita. Bukan berarti setiap kesalahan orang lain harus kita klaim sebagai kesalahan sendiri. Bukan pula berarti kita harus kehilangan kemampuan membedakan benar dan salah. Yang diperlukan adalah kesediaan untuk melihat ke dalam diri setelah melihat keluar. Kajian tentang etika Al-Ghazali menunjukkan bahwa pembentukan akhlak tidak dapat dilepaskan dari pembinaan manusia secara keseluruhan, termasuk kondisi batinnya (Andriansyah & Riyanto, 2023). Karena itu, melihat keburukan orang lain seharusnya tidak selalu berakhir dengan penghakiman. Kadang ia bisa menjadi undangan untuk bercermin.
Penyakit Hati Tidak Selalu Terlihat
Salah satu hal menarik dari pemikiran Al-Ghazali adalah bahwa penyakit hati tidak selalu tampak dari luar. Seseorang bisa terlihat baik, sopan, bahkan rajin berbuat baik, tetapi masih menyimpan persoalan batin. Ia bisa membantu orang lain, tetapi berharap dipuji. Ia bisa berbicara tentang kesederhanaan, tetapi merasa lebih mulia daripada orang yang hidup mewah. Ia bisa menasihati orang tentang keikhlasan, tetapi sulit menerima ketika dirinya sendiri dikritik. Karena itulah Al-Ghazali memberi perhatian besar pada pembinaan qalb dan nafs. Kajian kontemporer tentang pemikirannya juga menunjukkan bahwa penyakit hati spiritual memiliki banyak bentuk dan dapat berhubungan dengan berbagai pola perilaku manusia (Subandi et al., 2024). Artinya, memperbaiki akhlak bukan hanya soal mengubah apa yang dilakukan. Kadang yang lebih sulit adalah mengubah “mengapa kita melakukannya. Dua orang bisa melakukan kebaikan yang sama, tetapi dorongan batinnya berbeda. Yang satu membantu karena kasih sayang, dan yang lain membantu karena ingin dikenal sebagai orang baik. Secara lahiriah mungkin sama, tetapi secara batin, belum tentu. Di situlah tasawuf mengajak manusia masuk lebih dalam: bukan hanya memperhatikan tindakan, tetapi juga membersihkan sumber tindakan tersebut.
Bercermin Sebelum Menghakimi
Pada akhirnya, empat jalan yang ditawarkan Al-Ghazali mencari bimbingan, memiliki sahabat yang jujur, belajar dari kritik, dan menjadikan perilaku orang lain sebagai cermin, bertemu pada satu kata “muhasabah”. Muhasabah bukan berarti setiap hari menyalahkan diri sendiri. Muhasabah juga bukan membuat kita merasa tidak pernah cukup baik. Sebaliknya, muhasabah adalah keberanian untuk melihat diri dengan jujur tanpa kehilangan harapan untuk berubah. Kita mengakui kesalahan, tetapi tidak tenggelam di dalamnya. Kita menerima kritik, tetapi tidak membiarkan kritik menghancurkan harga diri. Kita melihat kekurangan, tetapi menjadikannya jalan untuk bertumbuh.
Dalam pemikiran Al-Ghazali, manusia memiliki dimensi spiritual yang kompleks “qalb, ruh, nafs, dan ‘aql”, yang perlu dibina agar kehidupan manusia bergerak menuju kesempurnaan akhlak dan spiritualitas (Saari, 1998; Sun, 2025). Mungkin karena itu, pertanyaan terpenting setelah melihat kesalahan orang lain bukanlah “Mengapa dia seperti itu?, tetapi “Jangan-jangan sebagian dari sifat itu juga ada dalam diri saya”. Pertanyaan tersebut mungkin tidak nyaman, namun bisa jadi justru pertanyaan yang tidak nyaman itulah yang paling kita perlukan. Sebab orang yang tidak pernah mau bercermin akan menghabiskan hidupnya memperbaiki wajah orang lain. Sementara orang yang berani bercermin akan menyadari bahwa perjalanan memperbaiki dunia seringkali harus dimulai dari sesuatu yang jauh lebih dekat, yaitu memperbaiki diri sendiri.
Daftar Pustaka
Andriansyah, W. A., & Riyanto, W. F. (2023). Al-Ghazali’s (1058–1111 AD) thoughts about ethics in *Ihya Ulumuddin* and implications for modern society. *Jurnal Filsafat Indonesia, 6*(3). [https://doi.org/10.23887/jfi.v6i3.62532](https://doi.org/10.23887/jfi.v6i3.62532)
Nafi, M., Mulyani, F. T., & Afifah, F. N. (2022). The concept of *ma’rifatun nafs* and self knowledge: Comparative study of the thoughts of Al Ghazali and Sigmund Freud. *Journal of Sufism and Psychotherapy, 2*(2). [https://doi.org/10.28918/jousip.v2i2.6728](https://doi.org/10.28918/jousip.v2i2.6728)
Rizayanti, H., & Suyadi, S. (2023). Concept of *nafs* and *qalb* from the perspective of neuroscience: A study of Al-Ghazali’s thoughts. *Kontemplasi: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin, 11*(1), 49–66. [https://doi.org/10.21274/kontem.2023.11.1.49-66](https://doi.org/10.21274/kontem.2023.11.1.49-66)
Saari, C. Z. (1998). Al-Ghazali’s views on the heart, the spirit and the soul: A comparison between *Ihya’ ‘Ulum al-Din* and *Al-Risalah Al-Laduniyyah*. *Jurnal Usuluddin, 7*, 101–120. [https://doi.org/10.22452/usuluddin.vol7.12](https://doi.org/10.22452/usuluddin.vol7.12)
Subandi, M. A., Derin, S., & Setiyawati, D. (2024). Al Ghazali’s concept of diseases of the spiritual heart and its significance to the DSM-5-TR diagnosis. *Journal of Religion and Health, 63*(1), 490–514. [https://doi.org/10.1007/s10943-023-01871-y](https://doi.org/10.1007/s10943-023-01871-y)
Sun, S. A. L. (2025). Al-Ghazālī’s perspective on human spiritual components: Heart, spirit, soul, and intellect. AL-FALASIFAH: Journal of Philosophy and Islamic Studies, 1(1).
Biodata Penulis
Adih, M.Pd.I.
Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) dan Dosen Bimbingan & Konseling Pendidikan Islam (BKPI) Sekolah Tinggi Pesantren Darunna’im (STPDN) Lebak-Banten.




















