Setelah kebutuhan dasar, rasa aman, dan kebutuhan untuk memiliki hubungan dengan orang lain terpenuhi, manusia biasanya mulai mencari sesuatu yang lebih dalam: penghargaan. Dalam hierarki kebutuhan Abraham Maslow, kebutuhan ini dikenal sebagai esteem needs dan berada pada tingkat keempat. Pada tahap ini, seseorang tidak lagi hanya ingin diterima atau menjadi bagian dari kelompok. Ia juga ingin merasa bahwa dirinya berharga, mampu, dihormati, dan memiliki arti. Penghargaan itu bisa datang dari dalam diri sendiri, tetapi juga bisa berasal dari orang lain. Maslow menjelaskan kebutuhan penghargaan dalam dua arah. Di satu sisi, manusia membutuhkan penghargaan terhadap dirinya sendiri, seperti rasa percaya diri, kemampuan, pencapaian, kemandirian, dan perasaan bahwa dirinya memiliki kapasitas. Di sisi lain, ada kebutuhan untuk memperoleh penghargaan dari orang lain dalam bentuk pengakuan, perhatian, reputasi, status, dan apresiasi (Maslow, 1943).
1. Penghargaan dari Diri Sendiri
Penghargaan internal berkaitan dengan bagaimana seseorang memandang dirinya sendiri. Bukan sekadar merasa “saya ada”, tetapi merasa bahwa dirinya memiliki kemampuan dan nilai.
Hal ini dapat terlihat dalam beberapa bentuk, seperti:
- memiliki harga diri (self-esteem);
- percaya pada kemampuan diri dalam menghadapi berbagai situasi;
- merasa mandiri dan memiliki kebebasan dalam mengambil keputusan;
- merasa kompeten dan mampu menyelesaikan sesuatu dengan baik.
Menariknya, penelitian psikologi menunjukkan bahwa self-esteem bukan hanya persoalan merasa positif terhadap diri sendiri. Harga diri juga berkaitan dengan bagaimana seseorang menilai keberhargaan dirinya dalam berbagai situasi kehidupan. Karena itu, seseorang dapat memiliki rasa percaya diri yang sehat tanpa harus selalu merasa dirinya lebih baik daripada orang lain (Baumeister et al., 2003).
Hal ini juga sejalan dengan self-determination theory yang dikembangkan Ryan dan Deci. Mereka menjelaskan bahwa manusia memiliki kebutuhan psikologis dasar untuk merasa kompeten, otonom, dan terhubung dengan orang lain. Ketika kebutuhan tersebut terpenuhi, seseorang cenderung mengalami motivasi dan kesejahteraan psikologis yang lebih baik (Ryan & Deci, 2000).
Jadi, penghargaan terhadap diri sendiri tidak harus selalu berbentuk pujian. Terkadang ia tumbuh dari pengalaman sederhana: berhasil menyelesaikan tugas yang sulit, berani mengambil keputusan, belajar dari kegagalan, atau menyadari bahwa kita mampu menghadapi sesuatu yang sebelumnya terasa mustahil.
2. Penghargaan dari Orang Lain
Selain dari dalam diri, manusia juga membutuhkan pengakuan dari lingkungan. Kita ingin usaha yang dilakukan dilihat, kontribusi dihargai, dan keberhasilan diakui.
Bentuknya bisa berupa:
- status, reputasi, atau prestise;
- pengakuan atas pencapaian dan kerja keras;
- pujian dan apresiasi;
- rasa dihormati oleh orang lain.
Kebutuhan ini sebenarnya sangat manusiawi. Penelitian Leary dan koleganya tentang sociometer hypothesis menunjukkan bahwa harga diri dapat berkaitan dengan persepsi seseorang mengenai penerimaan atau penolakan sosial. Dengan kata lain, bagaimana kita merasa diterima oleh orang lain dapat ikut mempengaruhi bagaimana kita memandang diri sendiri (Leary et al., 1995). Itulah sebabnya kritik, penolakan, atau pengabaian terkadang terasa begitu personal. Yang terluka bukan hanya perasaan sesaat, tetapi juga bisa menyentuh pertanyaan yang lebih dalam: “Apakah saya masih dianggap penting?”
Namun, ada hal yang perlu diperhatikan. Ketika harga diri terlalu bergantung pada pencapaian, penampilan, status, atau persetujuan orang lain, seseorang menjadi lebih rentan mengalami naik-turunnya rasa berharga. Crocker dan Wolfe (2001) menyebut kondisi ini sebagai contingencies of self-worth, yaitu ketika rasa berharga seseorang bergantung pada keberhasilan atau penerimaan dalam bidang tertentu. Karena itu, menerima apresiasi tentu menyenangkan. Tetapi menjadikan apresiasi sebagai satu-satunya ukuran nilai diri dapat membuat kehidupan psikologis menjadi rapuh.
Ketika Kebutuhan Penghargaan Terpenuhi
Ketika kebutuhan penghargaan berkembang secara sehat, seseorang cenderung memiliki rasa percaya diri, merasa dirinya berguna, dan lebih yakin dalam menjalani kehidupan. Ia dapat menerima keberhasilan tanpa harus merendahkan orang lain. Ia juga dapat menerima kegagalan tanpa langsung menyimpulkan bahwa dirinya adalah orang yang gagal. Maslow sendiri mengaitkan terpenuhinya kebutuhan penghargaan dengan munculnya perasaan percaya diri, mampu, kuat, dan berguna bagi dunia (Maslow, 1943).
Namun, psikologi modern mengingatkan bahwa hubungan antara self-esteem dan berbagai hasil kehidupan tidak sesederhana “semakin tinggi harga diri, semakin baik semuanya”. Tinjauan Baumeister et al. (2003), misalnya, menemukan bahwa self-esteem yang tinggi tidak secara otomatis menyebabkan prestasi akademik atau keberhasilan dalam berbagai bidang. Dalam beberapa kasus, keberhasilan justru dapat menjadi salah satu sumber terbentuknya harga diri. Artinya, kita tidak perlu mengejar self-esteem yang tinggi dengan segala cara. Yang lebih penting adalah membangun harga diri yang sehat dan realistis.
Ketika Kebutuhan Penghargaan Tidak Terpenuhi
Sebaliknya, ketika seseorang terus-menerus merasa tidak dihargai, tidak mampu, atau tidak diterima, ia dapat mengalami penurunan rasa berharga terhadap dirinya sendiri. Dalam kondisi tertentu, rendahnya self-esteem juga berkaitan dengan masalah kesehatan mental. Orth dan Robins (2014), misalnya, dalam tinjauan penelitian longitudinal, menemukan dukungan kuat terhadap model yang menunjukkan bahwa self-esteem yang rendah dapat menjadi faktor kerentanan terhadap depresi. Namun, hubungan tersebut tetap perlu dipahami dalam konteks yang lebih luas dan bukan sebagai hubungan sebab-akibat tunggal untuk setiap individu. Dengan demikian, tidak tepat jika dikatakan bahwa kebutuhan penghargaan yang tidak terpenuhi secara otomatis menyebabkan seseorang mengalami stres, kecemasan, atau depresi. Kondisi psikologis manusia jauh lebih kompleks. Pengalaman hidup, hubungan sosial, pola berpikir, lingkungan, dan berbagai faktor lainnya juga berperan.
Kita Menemukannya dalam Kehidupan Sehari-hari
Kebutuhan akan penghargaan sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan kita.
Di tempat kerja, seseorang mungkin awalnya bekerja untuk memperoleh penghasilan dan memenuhi kebutuhan hidup. Tetapi setelah itu, ia juga ingin pekerjaannya dihargai. Pujian dari atasan, kepercayaan untuk memegang tanggung jawab, promosi jabatan, atau penghargaan atas prestasi dapat menjadi sumber kepuasan tersendiri.
Di sekolah dan kampus, seorang siswa atau mahasiswa mungkin belajar bukan hanya untuk mendapatkan nilai. Ada pula keinginan untuk membuktikan bahwa dirinya mampu, mendapatkan pengakuan dari guru atau dosen, dan merasa bangga terhadap hasil usahanya sendiri. Dalam perspektif self-determination theory, pengalaman merasa kompeten dan mampu menguasai sesuatu memang berkaitan dengan motivasi dan perkembangan psikologis yang sehat (Ryan & Deci, 2000).
Di media sosial, kebutuhan akan penghargaan dapat muncul dalam bentuk yang lebih modern. Jumlah likes, komentar positif, followers, atau respons dari orang lain terkadang menjadi ukuran tidak langsung tentang seberapa diterima dan dihargainya seseorang. Fenomena ini dapat dipahami melalui gagasan bahwa harga diri sebagian orang sangat sensitif terhadap penerimaan sosial (Leary et al., 1995).
Di sinilah kita perlu berhati-hati. Tidak ada yang salah dengan merasa senang ketika mendapatkan apresiasi. Yang perlu diperhatikan adalah ketika nilai diri mulai sepenuhnya bergantung pada penilaian orang lain. Sebab, jika harga diri selalu ditentukan oleh tepuk tangan, kita akan mudah kehilangan rasa berharga ketika tepuk tangan itu berhenti.
Pada akhirnya, kebutuhan akan penghargaan bukan hanya tentang bagaimana orang lain memandang kita. Lebih jauh dari itu, ia berkaitan dengan kemampuan untuk memandang diri sendiri secara sehat: mengetahui bahwa kita memiliki kekurangan, tetapi tetap memiliki nilai; pernah gagal, tetapi bukan berarti tidak mampu; dan tidak selalu mendapatkan pengakuan, tetapi tetap layak menghargai diri sendiri.
Mungkin di situlah bentuk penghargaan yang paling matang: bukan hidup untuk terus-menerus mendapatkan pengakuan, melainkan mampu menghargai diri sendiri sambil tetap terbuka menerima apresiasi dari orang lain.
Daftar pustaka
- Baumeister, R. F., Campbell, J. D., Krueger, J. I., & Vohs, K. D. (2003). Does high self-esteem cause better performance, interpersonal success, happiness, or healthier lifestyles? Psychological Science in the Public Interest, 4(1), 1–44. https://doi.org/10.1111/1529-1006.01431 (Sage Journals)
- Crocker, J., & Wolfe, C. T. (2001). Contingencies of self-worth. Psychological Review, 108(3), 593–623. https://doi.org/10.1037/0033-295X.108.3.593 (PubMed)
- Leary, M. R., Tambor, E. S., Terdal, S. K., & Downs, D. L. (1995). Self-esteem as an interpersonal monitor: The sociometer hypothesis. Journal of Personality and Social Psychology, 68(3), 518–530. https://doi.org/10.1037/0022-3514.68.3.518 (Scholars@Duke)
- Maslow, A. H. (1943). A theory of human motivation. Psychological Review, 50, 370–396. (Psych Classics)
- Orth, U., & Robins, R. W. (2014). The development of self-esteem. Current Directions in Psychological Science, 23(1), 38–43. Untuk hubungan self-esteem dan depresi, lihat juga Orth & Robins (2014), Understanding the link between low self-esteem and depression, Current Directions in Psychological Science, 22(6), 455–460. https://doi.org/10.1177/0963721413492763 (Asosiasi Ilmu Psikologis)
- Ryan, R. M., & Deci, E. L. (2000). Self-determination theory and the facilitation of intrinsic motivation, social development, and well-being. American Psychologist, 55(1), 68–78. https://doi.org/10.1037/0003-066X.55.1.68 (Teori Penentuan Diri)
Biodata Penulis
Adih, M.Pd.I.
Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) dan Dosen Bimbingan & Konseling Pendidikan Islam (BKPI) Sekolah Tinggi Pesantren Darunna’im (STPDN) Lebak-Banten.




















