Info
Rabu, 07 Okt 2026
  • Selamat Datang di Website Sekolah Tinggi Pesantren Darunna'im - Perguruan Tinggi Islam yang Berkualitas di Provinsi Banten
  • Selamat Datang di Website Sekolah Tinggi Pesantren Darunna'im - Perguruan Tinggi Islam yang Berkualitas di Provinsi Banten

Kebutuhan Akan Penghargaan: Ketika Sesorang Ingin Merasa Berarti

Adih, M.Pd.I.

 

 

 

Setelah kebutuhan dasar, rasa aman, dan kebutuhan untuk memiliki hubungan dengan orang lain terpenuhi, manusia biasanya mulai mencari sesuatu yang lebih dalam: penghargaan. Dalam hierarki kebutuhan Abraham Maslow, kebutuhan ini dikenal sebagai esteem needs dan berada pada tingkat keempat. Pada tahap ini, seseorang tidak lagi hanya ingin diterima atau menjadi bagian dari kelompok. Ia juga ingin merasa bahwa dirinya berharga, mampu, dihormati, dan memiliki arti. Penghargaan itu bisa datang dari dalam diri sendiri, tetapi juga bisa berasal dari orang lain. Maslow menjelaskan kebutuhan penghargaan dalam dua arah. Di satu sisi, manusia membutuhkan penghargaan terhadap dirinya sendiri, seperti rasa percaya diri, kemampuan, pencapaian, kemandirian, dan perasaan bahwa dirinya memiliki kapasitas. Di sisi lain, ada kebutuhan untuk memperoleh penghargaan dari orang lain dalam bentuk pengakuan, perhatian, reputasi, status, dan apresiasi (Maslow, 1943).

 

 

 

1. Penghargaan dari Diri Sendiri

 

Penghargaan internal berkaitan dengan bagaimana seseorang memandang dirinya sendiri. Bukan sekadar merasa “saya ada”, tetapi merasa bahwa dirinya memiliki kemampuan dan nilai.

 

Hal ini dapat terlihat dalam beberapa bentuk, seperti:

  • memiliki harga diri (self-esteem);
  • percaya pada kemampuan diri dalam menghadapi berbagai situasi;
  • merasa mandiri dan memiliki kebebasan dalam mengambil keputusan;
  • merasa kompeten dan mampu menyelesaikan sesuatu dengan baik.

 

Menariknya, penelitian psikologi menunjukkan bahwa self-esteem bukan hanya persoalan merasa positif terhadap diri sendiri. Harga diri juga berkaitan dengan bagaimana seseorang menilai keberhargaan dirinya dalam berbagai situasi kehidupan. Karena itu, seseorang dapat memiliki rasa percaya diri yang sehat tanpa harus selalu merasa dirinya lebih baik daripada orang lain (Baumeister et al., 2003).

Hal ini juga sejalan dengan self-determination theory yang dikembangkan Ryan dan Deci. Mereka menjelaskan bahwa manusia memiliki kebutuhan psikologis dasar untuk merasa kompeten, otonom, dan terhubung dengan orang lain. Ketika kebutuhan tersebut terpenuhi, seseorang cenderung mengalami motivasi dan kesejahteraan psikologis yang lebih baik (Ryan & Deci, 2000).

Jadi, penghargaan terhadap diri sendiri tidak harus selalu berbentuk pujian. Terkadang ia tumbuh dari pengalaman sederhana: berhasil menyelesaikan tugas yang sulit, berani mengambil keputusan, belajar dari kegagalan, atau menyadari bahwa kita mampu menghadapi sesuatu yang sebelumnya terasa mustahil.

 

 

2. Penghargaan dari Orang Lain

 

Selain dari dalam diri, manusia juga membutuhkan pengakuan dari lingkungan. Kita ingin usaha yang dilakukan dilihat, kontribusi dihargai, dan keberhasilan diakui.

Bentuknya bisa berupa:

  • status, reputasi, atau prestise;
  • pengakuan atas pencapaian dan kerja keras;
  • pujian dan apresiasi;
  • rasa dihormati oleh orang lain.

 

Kebutuhan ini sebenarnya sangat manusiawi. Penelitian Leary dan koleganya tentang sociometer hypothesis menunjukkan bahwa harga diri dapat berkaitan dengan persepsi seseorang mengenai penerimaan atau penolakan sosial. Dengan kata lain, bagaimana kita merasa diterima oleh orang lain dapat ikut mempengaruhi bagaimana kita memandang diri sendiri (Leary et al., 1995). Itulah sebabnya kritik, penolakan, atau pengabaian terkadang terasa begitu personal. Yang terluka bukan hanya perasaan sesaat, tetapi juga bisa menyentuh pertanyaan yang lebih dalam: “Apakah saya masih dianggap penting?”

 

Namun, ada hal yang perlu diperhatikan. Ketika harga diri terlalu bergantung pada pencapaian, penampilan, status, atau persetujuan orang lain, seseorang menjadi lebih rentan mengalami naik-turunnya rasa berharga. Crocker dan Wolfe (2001) menyebut kondisi ini sebagai contingencies of self-worth, yaitu ketika rasa berharga seseorang bergantung pada keberhasilan atau penerimaan dalam bidang tertentu. Karena itu, menerima apresiasi tentu menyenangkan. Tetapi menjadikan apresiasi sebagai satu-satunya ukuran nilai diri dapat membuat kehidupan psikologis menjadi rapuh.

 

Ketika Kebutuhan Penghargaan Terpenuhi

 

Ketika kebutuhan penghargaan berkembang secara sehat, seseorang cenderung memiliki rasa percaya diri, merasa dirinya berguna, dan lebih yakin dalam menjalani kehidupan. Ia dapat menerima keberhasilan tanpa harus merendahkan orang lain. Ia juga dapat menerima kegagalan tanpa langsung menyimpulkan bahwa dirinya adalah orang yang gagal. Maslow sendiri mengaitkan terpenuhinya kebutuhan penghargaan dengan munculnya perasaan percaya diri, mampu, kuat, dan berguna bagi dunia (Maslow, 1943).

 

Namun, psikologi modern mengingatkan bahwa hubungan antara self-esteem dan berbagai hasil kehidupan tidak sesederhana “semakin tinggi harga diri, semakin baik semuanya”. Tinjauan Baumeister et al. (2003), misalnya, menemukan bahwa self-esteem yang tinggi tidak secara otomatis menyebabkan prestasi akademik atau keberhasilan dalam berbagai bidang. Dalam beberapa kasus, keberhasilan justru dapat menjadi salah satu sumber terbentuknya harga diri. Artinya, kita tidak perlu mengejar self-esteem yang tinggi dengan segala cara. Yang lebih penting adalah membangun harga diri yang sehat dan realistis.

 

 

Ketika Kebutuhan Penghargaan Tidak Terpenuhi

 

 

Sebaliknya, ketika seseorang terus-menerus merasa tidak dihargai, tidak mampu, atau tidak diterima, ia dapat mengalami penurunan rasa berharga terhadap dirinya sendiri. Dalam kondisi tertentu, rendahnya self-esteem juga berkaitan dengan masalah kesehatan mental. Orth dan Robins (2014), misalnya, dalam tinjauan penelitian longitudinal, menemukan dukungan kuat terhadap model yang menunjukkan bahwa self-esteem yang rendah dapat menjadi faktor kerentanan terhadap depresi. Namun, hubungan tersebut tetap perlu dipahami dalam konteks yang lebih luas dan bukan sebagai hubungan sebab-akibat tunggal untuk setiap individu. Dengan demikian, tidak tepat jika dikatakan bahwa kebutuhan penghargaan yang tidak terpenuhi secara otomatis menyebabkan seseorang mengalami stres, kecemasan, atau depresi. Kondisi psikologis manusia jauh lebih kompleks. Pengalaman hidup, hubungan sosial, pola berpikir, lingkungan, dan berbagai faktor lainnya juga berperan.

 

 

 

Kita Menemukannya dalam Kehidupan Sehari-hari

 

Kebutuhan akan penghargaan sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan kita.

 

Di tempat kerja, seseorang mungkin awalnya bekerja untuk memperoleh penghasilan dan memenuhi kebutuhan hidup. Tetapi setelah itu, ia juga ingin pekerjaannya dihargai. Pujian dari atasan, kepercayaan untuk memegang tanggung jawab, promosi jabatan, atau penghargaan atas prestasi dapat menjadi sumber kepuasan tersendiri.

 

Di sekolah dan kampus, seorang siswa atau mahasiswa mungkin belajar bukan hanya untuk mendapatkan nilai. Ada pula keinginan untuk membuktikan bahwa dirinya mampu, mendapatkan pengakuan dari guru atau dosen, dan merasa bangga terhadap hasil usahanya sendiri. Dalam perspektif self-determination theory, pengalaman merasa kompeten dan mampu menguasai sesuatu memang berkaitan dengan motivasi dan perkembangan psikologis yang sehat (Ryan & Deci, 2000).

 

Di media sosial, kebutuhan akan penghargaan dapat muncul dalam bentuk yang lebih modern. Jumlah likes, komentar positif, followers, atau respons dari orang lain terkadang menjadi ukuran tidak langsung tentang seberapa diterima dan dihargainya seseorang. Fenomena ini dapat dipahami melalui gagasan bahwa harga diri sebagian orang sangat sensitif terhadap penerimaan sosial (Leary et al., 1995).

 

Di sinilah kita perlu berhati-hati. Tidak ada yang salah dengan merasa senang ketika mendapatkan apresiasi. Yang perlu diperhatikan adalah ketika nilai diri mulai sepenuhnya bergantung pada penilaian orang lain. Sebab, jika harga diri selalu ditentukan oleh tepuk tangan, kita akan mudah kehilangan rasa berharga ketika tepuk tangan itu berhenti.

 

Pada akhirnya, kebutuhan akan penghargaan bukan hanya tentang bagaimana orang lain memandang kita. Lebih jauh dari itu, ia berkaitan dengan kemampuan untuk memandang diri sendiri secara sehat: mengetahui bahwa kita memiliki kekurangan, tetapi tetap memiliki nilai; pernah gagal, tetapi bukan berarti tidak mampu; dan tidak selalu mendapatkan pengakuan, tetapi tetap layak menghargai diri sendiri.

 

Mungkin di situlah bentuk penghargaan yang paling matang: bukan hidup untuk terus-menerus mendapatkan pengakuan, melainkan mampu menghargai diri sendiri sambil tetap terbuka menerima apresiasi dari orang lain.

 

 

 

Daftar pustaka

 

 

 

 

Biodata Penulis

 

Adih, M.Pd.I.

Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) dan Dosen Bimbingan & Konseling Pendidikan Islam (BKPI) Sekolah Tinggi Pesantren Darunna’im (STPDN) Lebak-Banten.

Share:

Artikel Terkait

Empat Cara Mengenali Penyakit Hati Pada Diri Sendiri Perspektif Imam Ghazali
Empat Cara Mengenali Penyakit Hati Pada Diri Sendiri Perspektif Imam Ghazali
Pernahkah kita begitu mudah melihat kesalahan orang lain, tetapi kesulitan menemukan kesalahan dalam...
Kebutuhan Akan Penghargaan: Ketika Sesorang Ingin Merasa Berarti
Kebutuhan Akan Penghargaan: Ketika Sesorang Ingin Merasa Berarti
      Setelah kebutuhan dasar, rasa aman, dan kebutuhan untuk memiliki hubungan dengan...
Mengenal Konsep Minat Sosial Perspektif Alfred Adler
Mengenal Konsep Minat Sosial Perspektif Alfred Adler
      Pernahkah Anda bertemu dengan seseorang yang dari luar tampak memiliki kehidupan...
Kekuatan Pygmalion Efect Dalam Komunikasi
Kekuatan Pygmalion Efect Dalam Komunikasi
    Pernahkah Anda memperhatikan bahwa cara kita memandang seseorang ternyata bisa mempengaruhi...
Lebih Dari Sekedar Gerakan: Menemukan Jiwa Dan Spiritualitas Dalam Setiap Rakaat Shalat
Lebih Dari Sekedar Gerakan: Menemukan Jiwa Dan Spiritualitas Dalam Setiap Rakaat Shalat
    Bagi seorang Muslim, shalat adalah ibadah yang hadir begitu dekat dalam kehidupan sehari-hari....
Ketika Ego Diam Menguasai Diri: Mengenali Kesombongan Dari Perspektif Psikologi Islam
Ketika Ego Diam Menguasai Diri: Mengenali Kesombongan Dari Perspektif Psikologi Islam
Ada satu jenis kesombongan yang tidak selalu terlihat dari cara berpakaian, mobil yang dikendarai, rumah...
Ketika Keberadaan Kita Tidak Dianggap
Ketika Keberadaan Kita Tidak Dianggap
    Bayangkan suatu ketika Anda datang ke acara kumpul warga, reuni sekolah, atau sekadar pertemuan...
Wudhu: Bersuci Lahir dan Batin
Wudhu: Bersuci Lahir dan Batin
  PENGANTAR   Sebelum seorang Muslim berdiri menghadap Allah Swt. dalam shalat, ada persiapan...
Senyummu di Hadapan Saudaramu Adalah Sedekah: Ketika Kebaikan Dimulai dari Garis Bibir
Senyummu di Hadapan Saudaramu Adalah Sedekah: Ketika Kebaikan Dimulai dari Garis Bibir
    Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering memahami sedekah sebagai sesuatu yang berkaitan...
Tawadhu: Rendah Hati, Bukan Rendah Diri
Tawadhu: Rendah Hati, Bukan Rendah Diri
    Di era media sosial seperti sekarang, kita hidup dalam ruang yang hampir selalu mendorong...

Berita Terbaru

Berita UKM Terbaru

x