Info
Sabtu, 03 Okt 2026
  • Selamat Datang di Website Sekolah Tinggi Pesantren Darunna'im - Perguruan Tinggi Islam yang Berkualitas di Provinsi Banten
  • Selamat Datang di Website Sekolah Tinggi Pesantren Darunna'im - Perguruan Tinggi Islam yang Berkualitas di Provinsi Banten

Mengenal Konsep Minat Sosial Perspektif Alfred Adler

Adih, M.Pd.I

 

 

 

Pernahkah Anda bertemu dengan seseorang yang dari luar tampak memiliki kehidupan yang nyaris sempurna? Karirnya bagus, kondisi ekonominya mapan, pergaulannya luas. Tetapi entah mengapa, ia selalu terlihat gelisah, mudah membandingkan diri, dan seperti tidak pernah benar-benar merasa cukup. Sebaliknya, ada pula orang yang hidupnya sederhana. Tidak punya banyak hal untuk dipamerkan, tetapi mudah tersenyum, ringan tangan ketika tetangga membutuhkan bantuan, dan tampak menikmati hidupnya. Lalu, apa yang sebenarnya membuat seseorang merasa bahagia, pertanyaan seperti ini sebenarnya sudah lama menjadi perhatian para psikolog. Salah satu tokoh yang membicarakannya adalah Alfred Adler, psikolog Austria dan pendiri Individual Psychology. Bagi Adler, manusia tidak bisa dipahami hanya sebagai individu yang mengejar keberhasilan pribadi. Manusia juga memiliki kebutuhan untuk merasa menjadi bagian dari kehidupan bersama dan memberikan sesuatu yang berguna bagi orang lain. Gagasan tersebut dikenal sebagai social interest atau minat sosial, yang dalam istilah Adler disebut Gemeinschaftsgefühl (Adler, 1930). Menariknya, gagasan tersebut masih memiliki hubungan dengan pembahasan psikologi modern tentang hubungan sosial, perilaku prososial, dan kesejahteraan psikologis (Penner et al., 2005).

 

 

Bukan Sekadar Suka Bergaul

 

 

Ketika mendengar istilah “minat sosial”, mungkin yang terbayang adalah orang yang supel, punya banyak teman, atau senang berada di tengah keramaian. Padahal, bukan itu yang dimaksud Adler, minat sosial lebih berkaitan dengan cara kita memandang dan memperlakukan orang lain. Di dalamnya terdapat kepedulian, empati, rasa memiliki, serta kesediaan untuk berkontribusi dalam kehidupan bersama. Karena itu, seseorang yang pendiam pun bisa memiliki minat sosial yang kuat. Ia mungkin tidak banyak bicara atau tidak memiliki lingkaran pertemanan yang luas, tetapi ketika melihat orang lain kesulitan, ia terdorong untuk membantu. Begitu pula sebaliknya. Seseorang bisa sangat populer dan memiliki banyak teman, tetapi belum tentu benar-benar peduli kepada orang lain. Dalam pandangan Adler, manusia bukanlah makhluk yang berdiri sendiri. Kita tumbuh, bekerja, mencintai, dan menjalani kehidupan di tengah orang lain. Karena itu, rasa terhubung dengan kehidupan sosial dan kesediaan berkontribusi menjadi bagian penting dalam pemikiran Adler tentang kehidupan yang sehat (Adler, 1930).

 

 

Tiga Wilayah yang Menguji Cara Kita Menjalani Hidup

 

Gagasan Adler tentang minat sosial dapat dilihat dalam apa yang sering disebut sebagai tiga tugas kehidupan: kehidupan sosial, pekerjaan, serta cinta dan keluarga. Ketiganya sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.

 

 

Pertama, bagaimana kita membangun hubungan sosial.

 

Coba perhatikan cara kita berteman. Apakah kita hadir karena benar-benar menghargai seseorang, atau hanya ketika membutuhkan sesuatu, hubungan yang sehat tidak dibangun dari pertanyaan, “Apa yang bisa saya dapatkan?” tetapi juga dari kesediaan untuk memberi ruang, mendengarkan, menghargai, dan hadir bagi orang lain. Dalam psikologi, perilaku seperti membantu, berbagi, memberikan dukungan, dan bekerja sama umumnya dibahas dalam kerangka perilaku prososial. Penner et al. (2005) menjelaskan bahwa perilaku prososial mencakup berbagai tindakan yang ditujukan untuk memberikan manfaat kepada orang lain dan dapat dipahami dari berbagai tingkatan, mulai dari hubungan antarindividu hingga konteks sosial yang lebih luas.

 

 

Kedua, bagaimana kita memaknai pekerjaan.

 

Bekerja tentu penting untuk memenuhi kebutuhan hidup. Tetapi pekerjaan juga dapat menjadi ruang bagi seseorang untuk menggunakan kemampuan yang dimilikinya dan memberikan kontribusi kepada orang lain. Seorang guru, misalnya, bukan hanya menjalankan pekerjaan untuk mendapatkan penghasilan. Ada nilai yang lebih luas ketika pengetahuan yang dimilikinya membantu orang lain berkembang. Begitu pula dokter, petani, pedagang, pegawai, pengusaha, maupun pekerja lainnya. Ketika pekerjaan dipandang sebagai sesuatu yang memiliki manfaat bagi orang lain, pekerjaan tidak semata-mata menjadi alat untuk mencapai status pribadi. Pandangan semacam ini sejalan dengan teori Self-Determination yang dikembangkan Deci dan Ryan (2000). Mereka menjelaskan bahwa manusia memiliki kebutuhan psikologis dasar, termasuk kebutuhan untuk merasa terhubung dengan orang lain (relatedness), selain kebutuhan akan otonomi dan kompetensi. Ketika kebutuhan-kebutuhan tersebut terpenuhi, seseorang lebih mungkin mengalami fungsi psikologis dan kesejahteraan yang lebih baik.

 

Ketiga, bagaimana kita menjalani cinta dan keluarga.

 

Di sinilah ego sering kali diuji, dalam hubungan pasangan, kita mudah terjebak pada pertanyaan: “Apa yang bisa dia berikan kepada saya?” Padahal, hubungan yang sehat membutuhkan pertanyaan lain “Apa yang bisa kami bangun bersama?” Perbedaan kecil dalam cara memandang hubungan ini bisa membawa konsekuensi besar. Cinta bukan sekadar tentang mendapatkan perhatian, tetapi juga tentang belajar memahami, memberi ruang, berkompromi, dan tumbuh bersama.

 

 

Ketika Hidup Terlalu Berpusat pada Diri Sendiri

 

Salah satu gagasan penting dalam psikologi individual Adler adalah bahwa persoalan manusia berkaitan dengan cara seseorang memandang dirinya sendiri, orang lain, dan dunia di sekitarnya. Ketika perhatian kita terlalu terserap pada diri sendiri, kehidupan bisa terasa seperti arena persaingan tanpa akhir. Kita mulai bertanya, “Bagaimana kalau orang lain lebih sukses?”, “Bagaimana kalau saya dianggap gagal?”, “Mengapa dia mendapatkan lebih banyak daripada saya?”, “Mengapa orang lain tidak menghargai saya?” Pertanyaan-pertanyaan seperti ini tentu manusiawi. Masalahnya muncul ketika kehidupan kita hampir seluruhnya dikendalikan oleh perbandingan dan penilaian terhadap diri sendiri. Media sosial dapat membuat kecenderungan ini semakin terasa. Kita melihat pencapaian orang lain setiap hari—rumah yang lebih bagus, pekerjaan yang lebih menarik, perjalanan yang lebih jauh, atau kehidupan keluarga yang tampaknya lebih bahagia. Tanpa sadar, kehidupan orang lain kemudian kita jadikan ukuran untuk menilai kehidupan sendiri. Dalam perspektif Adler, minat sosial menawarkan arah yang berbeda. Perhatian tidak berhenti pada pertanyaan, “Bagaimana posisi saya dibandingkan dengan orang lain?” tetapi bergerak menuju pertanyaan yang lebih luas: “Apa yang bisa saya lakukan dan berikan dalam kehidupan bersama?” Perubahan sudut pandang ini tentu tidak otomatis menghilangkan kecemasan atau persoalan psikologis. Namun, perhatian terhadap hubungan sosial dan kontribusi kepada orang lain merupakan bagian penting dalam pemikiran Adler mengenai kehidupan manusia (Adler, 1930).

 

 

Peduli kepada Orang Lain, Benarkah Membuat Kita Lebih Bahagia?

 

 

Di sinilah gagasan Adler bertemu dengan sejumlah penelitian psikologi kontemporer. Berbagai penelitian menunjukkan adanya hubungan antara perilaku prososial dan kesejahteraan. Membantu, berbagi, memberikan dukungan, atau berkontribusi kepada orang lain dapat memberikan pengalaman sosial yang bermakna dan memperkuat hubungan dengan orang lain (Penner et al., 2005). Salah satu penelitian yang cukup menarik dilakukan oleh Dunn, Aknin, dan Norton (2008). Mereka menemukan bahwa dalam beberapa kondisi, orang yang menggunakan uangnya untuk orang lain melaporkan kebahagiaan yang lebih tinggi dibandingkan ketika uang tersebut digunakan hanya untuk kepentingan diri sendiri. Temuan tersebut menarik karena memberi kita perspektif lain tentang kebahagiaan. Kebahagiaan ternyata tidak selalu berkaitan dengan seberapa banyak yang kita miliki, tetapi dalam kondisi tertentu juga dapat berkaitan dengan bagaimana kita menggunakan apa yang kita miliki untuk orang lain. Penelitian lain mengenai altruisme juga menunjukkan adanya hubungan antara tindakan memberikan manfaat kepada orang lain dengan aspek-aspek kesejahteraan dan kesehatan (Post, 2005). Namun, hubungan tersebut tidak berarti bahwa setiap tindakan menolong pasti membuat seseorang bahagia atau bahwa membantu orang lain dapat menggantikan penanganan profesional terhadap masalah psikologis. Kita tetap perlu melihat konteksnya, membantu orang lain dengan tulus berbeda dengan memaksakan diri agar selalu disukai.

 

 

Tidak Harus Melakukan Hal Besar

 

 

Kadang-kadang kita membayangkan kontribusi sosial sebagai sesuatu yang besar: mendirikan lembaga sosial, menjadi relawan dalam bencana, atau menyumbangkan uang dalam jumlah banyak. Padahal, minat sosial bisa dimulai dari hal-hal yang jauh lebih sederhana. Mendengarkan teman yang sedang menghadapi masalah, menanyakan kabar orang tua, membantu tetangga yang sedang kesulitan, memberikan kesempatan kepada orang lain untuk berbicara, tidak meremehkan pekerjaan seseorang hanya karena statusnya berbeda, atau sekadar tersenyum dan memperlakukan orang lain dengan hormat. Tindakan-tindakan kecil seperti ini mungkin tidak pernah masuk berita. Namun, kehidupan sosial manusia memang dibangun dari interaksi sehari-hari. Dalam kajian tentang perilaku prososial, tindakan membantu dan memberikan manfaat kepada orang lain merupakan bagian penting dari kehidupan sosial manusia (Penner et al., 2005).

 

 

Peduli kepada Sesama Bukan Berarti Melupakan Diri Sendiri

 

 

Ada satu hal penting yang sering terlupakan, minat sosial bukan berarti kita harus selalu mendahulukan orang lain sampai mengabaikan diri sendiri. Kita tetap membutuhkan waktu untuk beristirahat, memenuhi kebutuhan pribadi, mengatakan “tidak”, dan menjaga batas diri. Peduli kepada sesama tidak sama dengan kehilangan diri sendiri. Justru, kepedulian yang sehat lahir ketika seseorang mampu mengakui bahwa dirinya dan orang lain sama-sama memiliki kebutuhan, perasaan, serta martabat yang perlu dihargai. Dalam kerangka Self-Determination Theory, kebutuhan untuk terhubung dengan orang lain berjalan berdampingan dengan kebutuhan akan otonomi dan kompetensi (Deci & Ryan, 2000). Artinya, menjadi manusia yang peduli tidak mengharuskan kita menghapus kebutuhan pribadi.

 

 

Pada Akhirnya, Bukan Hanya Tentang “Saya”

 

Mungkin inilah salah satu pesan menarik dari pemikiran Adler, manusia memang membutuhkan keberhasilan, pengakuan, rasa aman, dan pencapaian pribadi. Semua itu merupakan bagian dari kehidupan,  tetapi jika seluruh hidup hanya berputar pada diri sendiri, kita bisa kehilangan sesuatu yang tidak kalah penting, yaitu rasa terhubung dengan orang lain. Kita mungkin tidak selalu membutuhkan lebih banyak harta, lebih banyak pengikut, atau lebih banyak pengakuan. Kadang-kadang, yang kita butuhkan adalah merasa bahwa keberadaan kita berguna. Bukan berarti kita harus melakukan sesuatu yang luar biasa. Cukup hadir ketika seseorang membutuhkan, Cukup mendengarkan tanpa buru-buru menghakimi, Cukup membantu tanpa merasa harus dipuji. Sebab bisa jadi, di tengah dunia yang semakin sibuk mengejar “aku”, kemampuan untuk peduli kepada “kita” justru menjadi salah satu bentuk kemanusiaan yang paling sederhana—dan paling berarti.Dan mungkin, di situlah kita menemukan salah satu makna kebahagiaan: bukan hanya ketika hidup terasa baik bagi diri kita, tetapi ketika keberadaan kita juga membawa kebaikan bagi kehidupan orang lain.

 

 

 

Daftar pustaka

Adler, A. (1930). The science of living. Greenberg.

Deci, E. L., & Ryan, R. M. (2000). The “what” and “why” of goal pursuits: Human needs and the self-determination of behavior. Psychological Inquiry, 11(4), 227–268. https://doi.org/10.1207/S15327965PLI1104_01

Dunn, E. W., Aknin, L. B., & Norton, M. I. (2008). Spending money on others promotes happiness. Science, 319(5870), 1687–1688. https://doi.org/10.1126/science.1150952

Penner, L. A., Dovidio, J. F., Piliavin, J. A., & Schroeder, D. A. (2005). Prosocial behavior: Multilevel perspectives. Annual Review of Psychology, 56, 365–392. https://doi.org/10.1146/annurev.psych.56.091103.070141

Post, S. G. (2005). Altruism, happiness, and health: It’s good to be good. International Journal of Behavioral Medicine, 12(2), 66–77. https://doi.org/10.1207/s15327558ijbm1202_4

 

 

 

Biodata Penulis

 

Adih, M.Pd.I.

Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) dan Dosen Bimbingan & Konseling Pendidikan Islam (BKPI) Sekolah Tinggi Pesantren Darunna’im (STPDN) Lebak-Banten.

Share:

Artikel Terkait

Mengenal Konsep Minat Sosial Perspektif Alfred Adler
Mengenal Konsep Minat Sosial Perspektif Alfred Adler
      Pernahkah Anda bertemu dengan seseorang yang dari luar tampak memiliki kehidupan...
Kekuatan Pygmalion Efect Dalam Komunikasi
Kekuatan Pygmalion Efect Dalam Komunikasi
    Pernahkah Anda memperhatikan bahwa cara kita memandang seseorang ternyata bisa mempengaruhi...
Lebih Dari Sekedar Gerakan: Menemukan Jiwa Dan Spiritualitas Dalam Setiap Rakaat Shalat
Lebih Dari Sekedar Gerakan: Menemukan Jiwa Dan Spiritualitas Dalam Setiap Rakaat Shalat
    Bagi seorang Muslim, shalat adalah ibadah yang hadir begitu dekat dalam kehidupan sehari-hari....
Ketika Ego Diam Menguasai Diri: Mengenali Kesombongan Dari Perspektif Psikologi Islam
Ketika Ego Diam Menguasai Diri: Mengenali Kesombongan Dari Perspektif Psikologi Islam
Ada satu jenis kesombongan yang tidak selalu terlihat dari cara berpakaian, mobil yang dikendarai, rumah...
Ketika Keberadaan Kita Tidak Dianggap
Ketika Keberadaan Kita Tidak Dianggap
    Bayangkan suatu ketika Anda datang ke acara kumpul warga, reuni sekolah, atau sekadar pertemuan...
Wudhu: Bersuci Lahir dan Batin
Wudhu: Bersuci Lahir dan Batin
  PENGANTAR   Sebelum seorang Muslim berdiri menghadap Allah Swt. dalam shalat, ada persiapan...
Senyummu di Hadapan Saudaramu Adalah Sedekah: Ketika Kebaikan Dimulai dari Garis Bibir
Senyummu di Hadapan Saudaramu Adalah Sedekah: Ketika Kebaikan Dimulai dari Garis Bibir
    Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering memahami sedekah sebagai sesuatu yang berkaitan...
Tawadhu: Rendah Hati, Bukan Rendah Diri
Tawadhu: Rendah Hati, Bukan Rendah Diri
    Di era media sosial seperti sekarang, kita hidup dalam ruang yang hampir selalu mendorong...
Membangun Sinergitas Melalui Silaturahmi dan Silahul Fikri
Membangun Sinergitas Melalui Silaturahmi dan Silahul Fikri
Di era yang penuh dengan perubahan cepat dan tantangan yang kompleks, sinergisitas bukan lagi sekadar...
Menembus Dinding Kelas: PPLK Penentu Masa Depan Mahasiswa Kependidikan
Menembus Dinding Kelas: PPLK Penentu Masa Depan Mahasiswa Kependidikan
Menjadi seorang guru tidak cukup hanya dengan modal IPK sempurna atau menghafal seluruh teori pedagogi...

Berita Terbaru

Berita UKM Terbaru

x