Info
Kamis, 01 Okt 2026
  • Selamat Datang di Website Sekolah Tinggi Pesantren Darunna'im - Perguruan Tinggi Islam yang Berkualitas di Provinsi Banten
  • Selamat Datang di Website Sekolah Tinggi Pesantren Darunna'im - Perguruan Tinggi Islam yang Berkualitas di Provinsi Banten

Kekuatan Pygmalion Efect Dalam Komunikasi

Adih, M.Pd.I

 

 

Pernahkah Anda memperhatikan bahwa cara kita memandang seseorang ternyata bisa mempengaruhi cara orang itu berkembang. Seorang guru yang percaya bahwa muridnya mampu mungkin akan lebih sabar menjelaskan ketika murid tersebut belum memahami pelajaran. Seorang atasan yang melihat potensi dalam diri karyawannya mungkin akan lebih sering memberinya kesempatan untuk mengambil keputusan. Begitu pula orang tua. Ketika mereka menunjukkan kepercayaan kepada anak, anak bisa tumbuh dengan keyakinan bahwa dirinya memang mampu. Dalam psikologi, fenomena seperti ini dikenal sebagai Pygmalion Effect atau efek ekspektasi. Sederhananya, apa yang kita harapkan dari seseorang dapat mempengaruhi cara kita memperlakukan orang tersebut. Perlakuan itu kemudian dapat ikut mempengaruhi keyakinan, perilaku, dan hasil yang dicapainya. Konsep ini berakar pada penelitian Rosenthal dan Jacobson tentang ekspektasi guru terhadap perkembangan siswa (Rosenthal & Jacobson, 1968). Dengan kata lain, ekspektasi tidak selalu berhenti sebagai sesuatu yang ada di kepala. Ia bisa masuk ke dalam cara kita berbicara, memberikan kesempatan, memberi umpan balik, bahkan sekadar memandang seseorang. Disinilah komunikasi menjadi penting.

 

 

Ketika Ekspektasi Diam-Diam Mengubah Perlakuan

 

Istilah Pygmalion Effect banyak dikenal setelah penelitian Robert Rosenthal dan Lenore Jacobson pada akhir 1960-an. Dalam penelitian mereka di sekolah dasar, para guru diberi informasi bahwa sejumlah siswa tertentu memiliki potensi perkembangan intelektual yang tinggi. Padahal, siswa-siswa tersebut sebenarnya dipilih secara acak (Rosenthal & Jacobson, 1968). Yang menarik, penelitian tersebut kemudian memicu banyak penelitian lanjutan tentang bagaimana ekspektasi guru dapat berhubungan dengan perkembangan siswa. Hasil penelitian selama puluhan tahun menunjukkan bahwa ekspektasi guru memang dapat berpengaruh terhadap siswa dalam kondisi tertentu, meskipun pengaruhnya tidak selalu besar dan tidak otomatis terjadi pada semua situasi (Good et al., 2018; Jussim & Harber, 2005).

Bagaimana hal itu bisa terjadi, salah satu penjelasannya adalah perubahan perlakuan guru terhadap siswa. Karena percaya bahwa anak-anak tersebut memiliki potensi, guru mungkin memberikan lebih banyak perhatian, kesempatan, dukungan, tantangan, dan umpan balik kepada mereka. Jadi, bukan sekadar “guru percaya, lalu siswa tiba-tiba menjadi pintar”. Ada proses komunikasi dan interaksi yang berlangsung di antara keduanya. Ekspektasi seseorang dapat mempengaruhi perilakunya terhadap orang lain. Perilaku itu kemudian diterima oleh orang yang menjadi sasaran ekspektasi. Pada situasi tertentu, perlakuan tersebut dapat ikut membentuk motivasi, kesempatan belajar, dan kinerja.

Gambaran sederhananya kira-kira seperti ini:

Ekspektasi → cara memperlakukan → respons orang lain → perilaku/kinerja

Namun, penting untuk tidak memahami hubungan ini secara terlalu sederhana. Penelitian tentang self-fulfilling prophecy menunjukkan bahwa efek ekspektasi interpersonal memang nyata, tetapi rata-rata cenderung relatif kecil dan bergantung pada konteks. Bahkan, sebagian ekspektasi seseorang bisa muncul karena persepsinya memang cukup akurat terhadap kemampuan orang lain (Jussim & Harber, 2005).

 

 

Empat Cara Ekspektasi Masuk ke Dalam Komunikasi

 

Ekspektasi biasanya tidak disampaikan secara terang-terangan. Kita jarang mengatakan, “Saya memiliki ekspektasi tinggi terhadapmu.” Namun, orang lain bisa merasakannya dari cara kita berinteraksi.

Pertama, iklim atau climate.

Kita cenderung menciptakan suasana yang lebih hangat dan mendukung kepada orang yang kita anggap memiliki potensi. Kita lebih sabar mendengarkan, lebih terbuka terhadap pertanyaan, dan lebih bersedia membantu ketika mereka mengalami kesulitan.

Kedua, input.

Orang yang kita percaya memiliki kemampuan seringkali mendapatkan lebih banyak informasi, tantangan, atau kesempatan untuk belajar. Kita mungkin berpikir, “Dia mampu mengerjakan yang lebih sulit,” sehingga tanpa sadar kita memberinya ruang untuk berkembang.

Ketiga, kesempatan untuk merespons atau output.

Kita memberikan lebih banyak kesempatan kepada orang tertentu untuk berbicara, mencoba, mengambil keputusan, atau menunjukkan kemampuannya. Bayangkan seorang mahasiswa yang sering diberi kesempatan mempresentasikan gagasannya. Lambat laun ia bukan hanya semakin terampil berbicara, tetapi juga semakin percaya bahwa pendapatnya memang layak didengar.

Keempat, feedback.

Orang yang kita yakini mampu biasanya mendapatkan umpan balik yang lebih konstruktif. Ketika berhasil, kita menjelaskan apa yang sudah dilakukan dengan baik. Ketika gagal, kita cenderung mencari cara memperbaikinya, bukan langsung memberi label negatif. Di sinilah komunikasi menjadi semacam “jembatan” antara ekspektasi dan perkembangan seseorang.

 

 

 

Bukan Sekadar Memuji: Bagaimana Menggunakan Komunikasi secara Positif

 

Pygmalion Effect bukan berarti kita harus terus-menerus memuji orang lain. Mengatakan “Kamu hebat!” setiap hari belum tentu membuat seseorang berkembang. Yang lebih penting adalah bagaimana ekspektasi positif diterjemahkan menjadi perlakuan yang nyata.

 

1. Tunjukkan Kepercayaan melalui Bahasa Tubuh

Komunikasi tidak selalu berupa kata-kata.

Kontak mata, ekspresi wajah, posisi tubuh, anggukan, dan perhatian ketika seseorang berbicara dapat menyampaikan pesan yang sangat kuat. Ketika seseorang sedang menyampaikan ide, misalnya, simpan ponsel Anda. Tatap wajahnya, Dengarkan sampai selesai, Berikan respons yang menunjukkan bahwa gagasannya memang sedang dipertimbangkan. Hal sederhana seperti ini dapat menyampaikan pesan “Saya menganggap apa yang kamu katakan penting.” Sebaliknya, terus melihat ponsel, memotong pembicaraan, atau menunjukkan ekspresi meremehkan juga mengirimkan pesan meskipun kita tidak mengucapkannya secara langsung.

 

2. Tinggikan Standar, tetapi Jangan Membuat Orang Takut

Ekspektasi tinggi tidak harus disampaikan dengan tekanan. Ada perbedaan antara mengatakan “Tugas ini sulit, Jangan sampai kamu membuat kesalahan.” dengan mengatakan “Tugas ini memang cukup menantang dan standarnya tinggi, Saya memberi tanggung jawab ini karena saya melihat kemampuanmu untuk mengerjakannya. Kalau ada bagian yang sulit, kita bisa membahasnya bersama.” Keduanya sama-sama menunjukkan bahwa tugas tersebut penting. Namun, pesan psikologisnya berbeda, Kalimat pertama lebih mudah membuat seseorang merasa takut gagal. Kalimat kedua menyampaikan dua hal sekaligus, standar yang tinggi dan kepercayaan. Lingkungan komunikasi seperti ini juga berkaitan dengan konsep psychological safety, yaitu keyakinan bahwa seseorang cukup aman untuk bertanya, mengemukakan gagasan, mengakui kesalahan, dan mengambil risiko interpersonal tanpa takut dipermalukan. Penelitian Edmondson (1999) menemukan bahwa psychological safety berkaitan dengan perilaku belajar dalam tim dan berhubungan dengan kinerja melalui proses belajar tersebut.

 

3. Berikan Ruang untuk Mandiri

Ada satu paradoks dalam memberikan kepercayaan. Kadang-kadang kita mengatakan percaya kepada seseorang, tetapi pada saat yang sama terus mengawasi setiap langkahnya, “Sudah sampai mana?” “Kenapa begini?” “Coba lakukan seperti yang saya bilang.” “Jangan begitu.” Jika pola ini terus terjadi, pesan yang diterima orang tersebut bisa berbeda dari apa yang kita maksudkan. Alih-alih merasa dipercaya, ia justru merasa bahwa dirinya tidak mampu mengambil keputusan sendiri. Karena itu, memberikan tanggung jawab juga berarti memberikan ruang. Sampaikan tujuan yang ingin dicapai, jelaskan batasan yang perlu diperhatikan, lalu berikan kesempatan kepada orang tersebut untuk menentukan cara mencapainya. Tentu saja bukan berarti kita melepas begitu saja. Pendampingan tetap diperlukan. Bedanya, pendampingan tidak berubah menjadi pengawasan berlebihan.

 

4. Berikan Pujian yang Spesifik

Pujian memang menyenangkan, tetapi pujian yang terlalu umum sering kali tidak memberi banyak informasi, “Kamu pintar” “Kamu hebat” “Kamu memang berbakat”. Coba ubah menjadi lebih spesifik, “Cara kamu menyusun data tadi membuat persoalannya jauh lebih mudah dipahami.” Atau, “Saya melihat kamu tidak menyerah ketika bagian pertama belum berhasil. Kamu mencoba cara lain sampai menemukan solusinya.” Pujian seperti ini membuat seseorang mengetahui perilaku apa yang sebenarnya dihargai.

Penelitian Mueller dan Dweck (1998), misalnya, menemukan bahwa anak-anak yang dipuji karena “kepintaran” menunjukkan pola motivasi yang kurang adaptif dibandingkan mereka yang dipuji karena usaha. Setelah mengalami kegagalan, kelompok yang dipuji karena kecerdasan juga menunjukkan persistensi dan kinerja yang lebih rendah. Temuan ini menjadi salah satu alasan mengapa pujian terhadap proses atau usaha yang dapat dikendalikan sering dianggap lebih konstruktif daripada sekadar memberi label “pintar” atau “berbakat”. Jadi, bukan berarti pujian harus dihilangkan. Yang perlu diperhatikan adalah apa yang sebenarnya kita puji.

 

5. Ketika Gagal, Kritik Perilakunya- Bukan Harga Dirinya

Bagian ini sering kali paling sulit.

Ketika seseorang melakukan kesalahan, kita mudah mengatakan:

“Kamu memang ceroboh.”

“Kamu tidak teliti.”

“Kamu memang tidak bisa.”

Masalahnya, kalimat seperti itu tidak hanya mengomentari sebuah pekerjaan. Ia bisa terdengar seperti penilaian terhadap identitas seseorang.

Lebih baik kita berbicara tentang perilakunya.

Misalnya:

“Hasilnya belum sesuai dengan target yang kita tetapkan. Mari kita lihat lagi bagian mana yang perlu diperbaiki.”

Pesannya tetap tegas. Kesalahan tidak ditutupi. Standar juga tidak diturunkan.

Tetapi orang tersebut masih diberi ruang untuk belajar.

Itulah salah satu bentuk komunikasi yang membedakan menegur untuk memperbaiki dengan menegur untuk menjatuhkan.

 

 

Pygmalion Effect Bukan Sihir

 

Meski menarik, Pygmalion Effect sebaiknya tidak dipahami secara berlebihan.

Ekspektasi positif bukan mantra yang otomatis membuat seseorang berhasil. Kemampuan, kesempatan, kondisi lingkungan, motivasi, sumber daya, dan berbagai faktor lainnya tetap memiliki peran.

Penelitian selama beberapa dekade justru mengingatkan kita untuk berhati-hati terhadap klaim bahwa ekspektasi guru atau pemimpin selalu mampu “menciptakan” prestasi. Efek self-fulfilling prophecy memang ditemukan, tetapi besarnya bervariasi dan dalam banyak penelitian relatif kecil (Jussim & Harber, 2005). (Sage Journals)

Yang lebih penting dari konsep ini adalah kesadaran bahwa cara kita memperlakukan orang lain bukan sesuatu yang netral.

Ketika kita percaya seseorang mampu, kita mungkin memberinya kesempatan lebih banyak. Ketika kita menganggap seseorang tidak mampu, kita mungkin tanpa sadar mengurangi kesempatan tersebut.

Pada titik inilah komunikasi menjadi sangat menentukan.

Kadang-Kadang yang Dibutuhkan Seseorang Adalah Satu Orang yang Percaya

Bayangkan seorang anak yang berkali-kali mendengar bahwa dirinya tidak pintar.

Lama-kelamaan, mungkin ia tidak lagi membutuhkan orang lain untuk mengatakan hal itu. Ia bisa mulai mengatakannya kepada dirinya sendiri.

“Saya memang tidak bisa.”

Sebaliknya, seseorang yang berulang kali mendapatkan kesempatan, dukungan, dan kepercayaan bisa mulai membangun suara batin yang berbeda:

“Mungkin saya belum bisa sekarang, tetapi saya bisa belajar.”

Perubahan seperti itu tentu tidak terjadi hanya karena satu kalimat pujian. Namun, lingkungan komunikasi yang konsisten dapat ikut membentuk bagaimana seseorang melihat dirinya sendiri dan menghadapi tantangan.

Karena itu, Pygmalion Effect pada akhirnya bukan hanya tentang bagaimana membuat orang lain berprestasi.

Ia juga mengajak kita bercermin:

Apa yang sebenarnya kita komunikasikan kepada orang-orang di sekitar kita?

Apakah mereka merasa dipercaya?

Apakah mereka merasa diberi ruang untuk tumbuh?

Apakah ketika gagal mereka merasa masih memiliki kesempatan untuk mencoba lagi?

Atau justru, tanpa kita sadari, cara bicara dan perlakuan kita membuat mereka takut mencoba?

Kita mungkin tidak selalu bisa menentukan seberapa cepat seseorang berkembang. Tetapi kita bisa memilih lingkungan seperti apa yang kita ciptakan untuk mereka.

Dan terkadang, perkembangan seseorang memang dimulai dari sesuatu yang sangat sederhana: ada orang yang melihat potensinya, lalu memperlakukannya seolah potensi itu layak untuk tumbuh.

 

 

 

Daftar Pustaka

 

Edmondson, A. (1999). Psychological safety and learning behavior in work teams. Administrative Science Quarterly, 44(2), 350–383. https://doi.org/10.2307/2666999 (DOI)

Good, T. L., Sterzinger, N., & Lavigne, A. (2018). Expectation effects: Pygmalion and the initial 20 years of research. Educational Research and Evaluation, 24(3–5), 99–123. https://doi.org/10.1080/13803611.2018.1548817 (Digital Commons)

Jussim, L., & Harber, K. D. (2005). Teacher expectations and self-fulfilling prophecies: Knowns and unknowns, resolved and unresolved controversies. Personality and Social Psychology Review, 9(2), 131–155. https://doi.org/10.1207/S15327957PSPR0902_3 (PubMed)

Mueller, C. M., & Dweck, C. S. (1998). Praise for intelligence can undermine children’s motivation and performance. Journal of Personality and Social Psychology, 75(1), 33–52. https://doi.org/10.1037/0022-3514.75.1.33 (PubMed)

Rosenthal, R., & Jacobson, L. (1968). Pygmalion in the classroom. The Urban Review, 3, 16–20. https://doi.org/10.1007/BF02322211 (DOI)

Jussim, L. (2015). Précis of Social Perception and Social Reality: Why accuracy dominates bias and self-fulfilling prophecy. Behavioral and Brain Sciences, 38, e5. https://doi.org/10.1017/S0140525X1500062X (PubMed)

 

 

 

 

Biodata Penulis

 

Adih, M.Pd.I.

Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) dan Dosen Bimbingan & Konseling Pendidikan Islam (BKPI) Sekolah Tinggi Pesantren Darunna’im (STPDN) Lebak-Banten.

Share:

Artikel Terkait

Kekuatan Pygmalion Efect Dalam Komunikasi
Kekuatan Pygmalion Efect Dalam Komunikasi
    Pernahkah Anda memperhatikan bahwa cara kita memandang seseorang ternyata bisa mempengaruhi...
Lebih Dari Sekedar Gerakan: Menemukan Jiwa Dan Spiritualitas Dalam Setiap Rakaat Shalat
Lebih Dari Sekedar Gerakan: Menemukan Jiwa Dan Spiritualitas Dalam Setiap Rakaat Shalat
    Bagi seorang Muslim, shalat adalah ibadah yang hadir begitu dekat dalam kehidupan sehari-hari....
Ketika Ego Diam Menguasai Diri: Mengenali Kesombongan Dari Perspektif Psikologi Islam
Ketika Ego Diam Menguasai Diri: Mengenali Kesombongan Dari Perspektif Psikologi Islam
Ada satu jenis kesombongan yang tidak selalu terlihat dari cara berpakaian, mobil yang dikendarai, rumah...
Ketika Keberadaan Kita Tidak Dianggap
Ketika Keberadaan Kita Tidak Dianggap
    Bayangkan suatu ketika Anda datang ke acara kumpul warga, reuni sekolah, atau sekadar pertemuan...
Wudhu: Bersuci Lahir dan Batin
Wudhu: Bersuci Lahir dan Batin
  PENGANTAR   Sebelum seorang Muslim berdiri menghadap Allah Swt. dalam shalat, ada persiapan...
Senyummu di Hadapan Saudaramu Adalah Sedekah: Ketika Kebaikan Dimulai dari Garis Bibir
Senyummu di Hadapan Saudaramu Adalah Sedekah: Ketika Kebaikan Dimulai dari Garis Bibir
    Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering memahami sedekah sebagai sesuatu yang berkaitan...
Tawadhu: Rendah Hati, Bukan Rendah Diri
Tawadhu: Rendah Hati, Bukan Rendah Diri
    Di era media sosial seperti sekarang, kita hidup dalam ruang yang hampir selalu mendorong...
Membangun Sinergitas Melalui Silaturahmi dan Silahul Fikri
Membangun Sinergitas Melalui Silaturahmi dan Silahul Fikri
Di era yang penuh dengan perubahan cepat dan tantangan yang kompleks, sinergisitas bukan lagi sekadar...
Menembus Dinding Kelas: PPLK Penentu Masa Depan Mahasiswa Kependidikan
Menembus Dinding Kelas: PPLK Penentu Masa Depan Mahasiswa Kependidikan
Menjadi seorang guru tidak cukup hanya dengan modal IPK sempurna atau menghafal seluruh teori pedagogi...
Bimbingan & Konseling Pendidikan Islam dan Prospeknya di Masa Sekarang
Bimbingan & Konseling Pendidikan Islam dan Prospeknya di Masa Sekarang
Bimbingan dan Konseling Pendidikan Islam (BKPI) merupakan cabang ilmu yang mengintegrasikan prinsip-prinsip...

Berita Terbaru

Berita UKM Terbaru

x