Info
Selasa, 29 Sep 2026
  • Selamat Datang di Website Sekolah Tinggi Pesantren Darunna'im - Perguruan Tinggi Islam yang Berkualitas di Provinsi Banten
  • Selamat Datang di Website Sekolah Tinggi Pesantren Darunna'im - Perguruan Tinggi Islam yang Berkualitas di Provinsi Banten

Tawadhu: Rendah Hati, Bukan Rendah Diri

Adih, M.Pd.I

 

 

Di era media sosial seperti sekarang, kita hidup dalam ruang yang hampir selalu mendorong kita untuk menunjukkan diri. Pencapaian, pekerjaan, gaya hidup, kekayaan, bahkan aktivitas ibadah dapat dengan mudah dibagikan kepada banyak orang hanya dalam hitungan detik. Tanpa disadari, muncul dorongan untuk selalu terlihat berhasil, bahagia, dan lebih baik daripada orang lain. Fenomena flexing, misalnya, menjadi sesuatu yang cukup akrab dalam kehidupan sehari-hari.

 

Di tengah keadaan seperti itu, Islam menawarkan sebuah sikap yang dapat menjadi penyeimbang yaitu sifat tawadhu. Tawadhu berarti sikap rendah hati. Namun, rendah hati sering kali disalah artikan sebagai sikap merendahkan diri. Sebagian berpandangan bahwa tawadhu berarti tidak boleh menunjukkan kemampuan, tidak boleh menerima pujian, atau harus selalu menempatkan diri di bawah orang lain. Padahal tawadhu bukanlah demikian, tawadhu bukan berarti menganggap diri tidak berharga. Tawadhu adalah kemampuan untuk menghargai diri tanpa harus merasa lebih tinggi daripada orang lain. Di sinilah letak perbedaan antara rendah hati dan rendah diri.

Rendah Hati Bukan Berarti Rendah Diri

 

Rendah diri atau inferiority berkaitan dengan perasaan bahwa diri sendiri tidak cukup baik, tidak mampu, atau tidak berharga dibandingkan orang lain. Seseorang yang mengalami perasaan rendah diri cenderung melihat kekurangannya secara berlebihan dan terus menerus membandingkan dirinya dengan orang lain. Tawadhu justru berbeda, orang yang tawadhu boleh saja memiliki ilmu yang luas, prestasi yang banyak, jabatan yang tinggi, harta yang cukup, atau kemampuan yang lebih baik daripada orang lain. Ia tidak harus menyembunyikan semua itu. Yang membedakan adalah cara ia memandang kelebihan tersebut. Ia tidak menjadikan kelebihan sebagai alasan untuk merendahkan orang lain. Ia menyadari bahwa apa yang dimilikinya bukan semata-mata hasil kekuatannya sendiri. Ada pertolongan Allah, ada doa orang tua, ada guru yang mengajarkan ilmu, ada orang-orang yang mendukung, dan ada begitu banyak keadaan yang berada di luar kendalinya. Karena itu, semakin banyak yang ia miliki, semakin besar pula rasa syukurnya kepada Allah. Al-Qur’an menggambarkan sikap hamba Allah yang memiliki kemuliaan dengan firman-Nya:

 

وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا

“Adapun hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan, ‘Salam’.” (QS. Al-Furqan: 63)

 

Ayat ini menunjukkan bahwa tawadhu bukan sekadar gaya bicara atau sikap tubuh. Tawadhu adalah keadaan batin yang kemudian tercermin dalam perilaku. Orang yang tawadhu tidak merasa perlu memenangkan setiap perdebatan. Ia tidak selalu membutuhkan pengakuan. Ia tidak merasa harus menjadi pusat perhatian. Ketika dipuji, ia tidak terbang terlalu tinggi. Ketika dikritik, ia juga tidak langsung merasa harga dirinya runtuh. Ia tahu siapa dirinya, tetapi ia juga tahu bahwa dirinya bukanlah pusat dari segala sesuatu.

 

Tawadhu dan Harga Diri yang Sehat

 

Menariknya, tawadhu tidak bertentangan dengan harga diri. Justru, keduanya dapat berjalan bersama. Seseorang dapat memiliki self-esteem yang sehat sekaligus tetap rendah hati. Ia mengetahui kemampuan dirinya, berani mengambil tanggung jawab, mampu mengatakan pendapat, dan tidak takut menunjukkan prestasi. Namun, semua itu tidak membuatnya merasa lebih mulia daripada orang lain. Inilah yang membedakan percaya diri dengan kesombongan. Percaya diri berkata, “Saya mampu melakukan ini”. Kesombongan berkata, “Saya mampu melakukan ini, maka saya lebih baik daripada kamu”. Tawadhu berada pada posisi yang berbeda. Ia mengatakan, “Saya memiliki kemampuan ini, tetapi kemampuan tersebut adalah amanah dari Allah dan tidak menjadi alasan bagi saya untuk merendahkan orang lain”. Kesadaran seperti inilah yang membuat seseorang tetap membumi meskipun berada di tempat yang tinggi.

Mengapa Tawadhu Penting di Era Digital?

 

Menjadi tawadhu di zaman media sosial bukan perkara mudah. Setiap hari kita berhadapan dengan berbagai bentuk perbandingan sosial. Kita melihat orang lain sukses, memiliki rumah yang bagus, bepergian ke berbagai tempat, mendapatkan penghargaan, memiliki banyak pengikut, atau terlihat menjalani kehidupan yang sempurna. Jika tidak hati-hati, semua itu dapat membuat kita terus bertanya: “Mengapa hidup saya tidak seperti dia?”. Atau sebaliknya: “Apa yang saya miliki sehingga orang lain harus melihat saya?”. Pada titik inilah tawadhu menjadi penting. Ia membantu kita mengambil jarak dari kebutuhan untuk selalu mendapatkan pengakuan.

1. Tawadhu Membantu Mengendalikan Ego

 

Tawadhu mengajarkan bahwa kita bukan satu-satunya orang yang penting. Ada orang lain yang juga memiliki cerita, perjuangan, kelebihan, dan pengalaman hidupnya sendiri. Kesadaran ini membuat seseorang lebih mudah mendengarkan, menghargai pendapat, dan menerima keberadaan orang lain. Ia tidak selalu merasa harus menjadi yang paling pintar dalam sebuah diskusi. Ia juga tidak merasa harus mendapatkan perhatian dalam setiap kesempatan.

 

2. Tawadhu Membuka Ruang bagi Hubungan yang Sehat

 

Tidak banyak orang merasa nyaman berada di sekitar seseorang yang selalu ingin menunjukkan keunggulan dirinya. Sebaliknya, orang yang rendah hati biasanya lebih mudah didekati karena ia mampu membuat orang lain merasa dihargai. Rasulullah ﷺ bersabda:

وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ

 

“Tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.”
(HR. Muslim No 2588)

 

Hadis ini memberikan pelajaran yang menarik. Dalam pandangan manusia, seseorang mungkin terlihat “turun” karena memilih rendah hati. Tetapi dalam pandangan Allah, justru sikap tersebut dapat menjadi jalan menuju kemuliaan. Kemuliaan tidak selalu datang karena seseorang paling banyak berbicara, paling terkenal, atau paling sering dipuji. Terkadang kemuliaan tumbuh dari hati yang tidak sibuk membesarkan dirinya sendiri.

3. Tawadhu Membuat Kita Terus Mau Belajar

 

Kesombongan sering kali membuat seseorang sulit menerima koreksi. Ketika merasa dirinya paling tahu, ia akan sulit mendengarkan orang lain. Sebaliknya, orang yang tawadhu memiliki ruang yang lebih luas untuk belajar. Ia tidak malu mengatakan, “Saya belum tahu”. Ia tidak merasa jatuh ketika mengatakan, “Saya keliru”. Ia bahkan mampu menerima kebenaran dari seseorang yang usianya lebih muda, kedudukannya lebih rendah, atau latar belakangnya berbeda. Dalam dunia pendidikan, sikap seperti ini sangat penting. Seorang dosen, guru, mahasiswa, ustadz, siswa, santri, maupun siapa pun yang sedang belajar akan berkembang ketika ia menyadari bahwa ilmu yang dimilikinya masih sangat terbatas. Semakin seseorang menyadari luasnya ilmu Allah, semakin ia memahami bahwa tidak ada alasan untuk merasa paling tahu.

Tawadhu dalam Kehidupan Sehari-hari

 

Tawadhu tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar. Ia justru dapat dilatih melalui kebiasaan sederhana.

Pertama, belajar memeriksa niat sebelum menunjukkan diri.

 

Sebelum mengunggah sesuatu di media sosial, kita dapat bertanya kepada diri sendiri: “Saya membagikan ini karena ingin memberi manfaat, atau karena ingin mendapatkan pengakuan?”. Pertanyaan sederhana tersebut dapat menjadi latihan untuk mengenali ego. Tidak semua unggahan adalah pamer. Membagikan prestasi juga tidak selalu salah. Yang perlu diperhatikan adalah apa yang sedang kita cari di balik tindakan tersebut: manfaat atau validasi.

Kedua, belajar menghargai keberhasilan orang lain.

 

Ketika melihat orang lain berhasil, biasakan untuk mengucapkan selamat dengan tulus. Tidak perlu selalu membandingkan pencapaian mereka dengan kehidupan kita. Keberhasilan orang lain tidak otomatis berarti kegagalan kita. Allah membagikan rezeki, kesempatan, dan perjalanan hidup kepada setiap manusia dengan cara yang berbeda. Karena itu, kita tidak perlu merasa kehilangan hanya karena orang lain mendapatkan sesuatu lebih dahulu.

Ketiga, berani mengakui kesalahan.

 

Mengatakan “saya salah” tidak membuat seseorang menjadi hina. Mengatakan “saya tidak tahu” juga tidak menjadikan seseorang bodoh. Justru, kemampuan mengakui keterbatasan merupakan tanda bahwa seseorang memiliki kedewasaan. Orang yang tawadhu tidak takut kehilangan citra hanya karena harus mengakui kesalahan. Baginya, memperbaiki diri jauh lebih penting daripada mempertahankan kesan bahwa dirinya selalu benar.

Keempat, belajar memuliakan orang lain.

 

Tawadhu juga dapat terlihat dari cara kita memperlakukan orang yang tidak memiliki kedudukan seperti kita. Bagaimana kita berbicara kepada petugas kebersihan, pelayan, pedagang kecil, mahasiswa, bawahan, atau orang yang tidak dapat memberikan keuntungan kepada kita sering kali menjadi cermin dari keadaan hati. Sebab, mudah bersikap baik kepada orang yang kita anggap penting. Tantangannya adalah tetap menghormati mereka yang tidak memiliki apa-apa untuk diberikan kepada kita.

Tawadhu adalah Kekuatan Batin

 

Pada akhirnya, tawadhu bukanlah tentang membuat diri kita menjadi kecil di hadapan manusia. Tawadhu juga bukan berarti membiarkan diri direndahkan atau kehilangan keberanian untuk menunjukkan kemampuan. Tawadhu adalah menempatkan diri secara proporsional: mengetahui kelebihan tanpa menyombongkannya, menyadari kekurangan tanpa membenci diri sendiri, menerima pujian tanpa mabuk oleh sanjungan, dan menerima kritik tanpa kehilangan harga diri.

 

Orang yang tawadhu tidak perlu terus-menerus mengatakan bahwa dirinya hebat. Ia cukup bekerja dengan baik, memberikan manfaat, dan menyerahkan penilaian akhirnya kepada Allah. Di tengah dunia yang semakin ramai dengan pencitraan, tawadhu mengajarkan kita untuk kembali bertanya kepada diri sendiri: “Untuk siapa sebenarnya semua yang saya lakukan?”

 

Sebab, boleh jadi kita memiliki banyak hal yang ingin ditunjukkan kepada manusia, tetapi yang jauh lebih penting adalah memiliki hati yang tetap dikenal oleh Allah. Tawadhu pada akhirnya bukan tentang bagaimana manusia melihat kita. Tawadhu adalah tentang bagaimana kita memandang diri sendiri dihadapan kebesaran Allah. Ketika hati benar-benar menyadari bahwa semua yang kita miliki hanyalah titipan, maka pujian tidak lagi membuat kita terbang dan penghinaan tidak mudah membuat kita runtuh. Kita tetap berjalan, tetap belajar, tetap berbuat baik, dan tetap membumi karena kita tahu, setinggi apapun manusia berada, pada akhirnya ia tetap seorang hamba.

 

Biodata Penulis

 

Adih, M.Pd.I.

Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) dan Dosen Bimbingan & Konseling Pendidikan Islam (BKPI) Sekolah Tinggi Pesantren Darunna’im (STPDN) Lebak-Banten.

Share:

Artikel Terkait

Senyummu di Hadapan Saudaramu Adalah Sedekah: Ketika Kebaikan Dimulai dari Garis Bibir
Senyummu di Hadapan Saudaramu Adalah Sedekah: Ketika Kebaikan Dimulai dari Garis Bibir
    Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering memahami sedekah sebagai sesuatu yang berkaitan...
Tawadhu: Rendah Hati, Bukan Rendah Diri
Tawadhu: Rendah Hati, Bukan Rendah Diri
    Di era media sosial seperti sekarang, kita hidup dalam ruang yang hampir selalu mendorong...
Membangun Sinergitas Melalui Silaturahmi dan Silahul Fikri
Membangun Sinergitas Melalui Silaturahmi dan Silahul Fikri
Di era yang penuh dengan perubahan cepat dan tantangan yang kompleks, sinergisitas bukan lagi sekadar...
Menembus Dinding Kelas: PPLK Penentu Masa Depan Mahasiswa Kependidikan
Menembus Dinding Kelas: PPLK Penentu Masa Depan Mahasiswa Kependidikan
Menjadi seorang guru tidak cukup hanya dengan modal IPK sempurna atau menghafal seluruh teori pedagogi...
Bimbingan & Konseling Pendidikan Islam dan Prospeknya di Masa Sekarang
Bimbingan & Konseling Pendidikan Islam dan Prospeknya di Masa Sekarang
Bimbingan dan Konseling Pendidikan Islam (BKPI) merupakan cabang ilmu yang mengintegrasikan prinsip-prinsip...
Keberkahan Hari Raya Idul Adha: Pengorbanan, kasihsayang dan Persaudaraan
Keberkahan Hari Raya Idul Adha: Pengorbanan, kasihsayang dan Persaudaraan
  Hari Raya Idul Adha, yang jatuh pada tanggal 10 Zulhijah setiap tahunnya, bukan sekadar perayaan...
Makna Hari Raya Idul Fitri 1447 H: Momen Kemenangan dan Kedewasaan Spiritual
Makna Hari Raya Idul Fitri 1447 H: Momen Kemenangan dan Kedewasaan Spiritual
Menjelang hari raya Idul Fitri 1447 H yang akan jatuh pada 21-22 Maret 2026, suasana kegembiraan dan...
Makna Ramadhan dalam Kegiatan Pesantren Kilat di Sekolah
Makna Ramadhan dalam Kegiatan Pesantren Kilat di Sekolah
  Oleh : Embib Habibah, M.Pd. Ramadhan Sebagai Fondasi Pendidikan Karakter   Bulan Ramadhan...
Zakat dan Jalan Keadilan Sosial
Zakat dan Jalan Keadilan Sosial
Di tengah berbagai persoalan ekonomi yang dihadapi masyarakat saat ini, zakat kembali menjadi perbincangan...
Nuzulul Qur’an dan Spirit Literasi
Nuzulul Qur’an dan Spirit Literasi
  Bulan Ramadhan selalu menghadirkan suasana religius yang khas bagi umat Islam. Di dalamnya terdapat...

Berita Terbaru

Berita UKM Terbaru

x