Bayangkan suatu ketika Anda datang ke acara kumpul warga, reuni sekolah, atau sekadar pertemuan bersama teman-teman lama. Anda duduk di sudut ruangan, sesekali tersenyum dan mencoba membuka percakapan. Namun, tidak ada yang benar-benar memperhatikan kehadiran Anda. Orang-orang sibuk dengan obrolannya masing-masing. Anda ada di sana, tetapi rasanya seperti tidak benar-benar dianggap ada. Pernah merasakan hal semacam itu?
Mungkin terlihat sederhana, tetapi pengalaman seperti ini bisa meninggalkan rasa tidak nyaman yang cukup dalam. Ada semacam pertanyaan yang diam-diam muncul dalam hati: Apakah keberadaan saya berarti bagi mereka?
Pertanyaan itu menunjukkan bahwa manusia ternyata tidak cukup hanya dengan “ada”. Kita tidak hanya membutuhkan makan, minum, tempat tinggal, dan rasa aman. Ada kebutuhan lain yang tidak kalah penting: kebutuhan untuk merasa diterima, dihargai, didengar, dan diakui keberadaannya. Kita ingin keberadaan kita memiliki arti.
MANUSIA TIDAK HANYA INGIN HIDUP TETAPI JUGA INGIN MERASA BERARTI
Sejak awal kehidupannya, manusia memang tumbuh sebagai makhluk sosial. Kita membutuhkan orang lain, bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan fisik, tetapi juga untuk mendapatkan rasa memiliki dan keterhubungan. Pada masa lalu, menjadi bagian dari kelompok bahkan berkaitan erat dengan keselamatan. Manusia yang hidup sendirian akan jauh lebih rentan menghadapi berbagai ancaman. Karena itu, dorongan untuk diterima dan menjadi bagian dari kelompok berkembang begitu kuat dalam diri manusia.
Zaman memang berubah. Kita tidak lagi hidup dalam kondisi seperti manusia ribuan tahun lalu. Namun, kebutuhan psikologis untuk merasa menjadi bagian dari kelompok masih tetap ada, bentuknya saja yang berubah. Dulu, seseorang mungkin merasa aman karena diterima oleh kelompoknya. Sekarang, seseorang bisa merasakan hal yang sama ketika namanya disebut dalam sebuah komunitas, pendapatnya didengarkan dalam rapat, hasil kerjanya diapresiasi, atau sekadar ketika tetangganya menyapa dengan ramah. Hal-hal kecil semacam itu ternyata memiliki arti besar. Ketika seseorang menyapa kita dengan hangat, meminta pendapat kita, atau datang kepada kita ketika membutuhkan bantuan, secara tidak langsung kita menerima pesan “Kehadiranmu berarti”. Pesan sederhana itu dapat menguatkan harga diri.
KETIKA TIDAK DIANGGAP, KITA BISA MERASA KEHILANGAN DIRI
Sebaliknya, ketika seseorang terus-menerus merasa diabaikan, tidak didengar, atau tidak dianggap penting, perlahan-lahan muncul perasaan terasing. Ia mungkin mulai bertanya-tanya, “Apakah saya memang tidak penting?”. Perasaan semacam ini tidak selalu terlihat dari luar. Seseorang bisa saja tetap tersenyum, bekerja, berinteraksi, bahkan terlihat baik-baik saja. Namun, di dalam dirinya mungkin ada kebutuhan yang belum terpenuhi yaitu kebutuhan untuk merasa diterima dan memiliki tempat.
Dalam kondisi tertentu, rasa terasing dan kehilangan hubungan sosial dapat berkontribusi terhadap berbagai persoalan psikologis. Karena itu, kebutuhan akan penerimaan sosial tidak seharusnya dianggap sebagai sesuatu yang sepele. Sayangnya, ketika kebutuhan untuk diakui terlalu kuat, seseorang kadang menempuh cara yang justru merugikan dirinya sendiri. Kita bisa melihatnya dalam kehidupan sehari-hari, ada orang yang gemar memamerkan kekayaan agar dianggap berhasil. Ada yang sengaja menciptakan konflik supaya menjadi pusat perhatian. Ada pula yang memaksakan diri masuk ke lingkungan tertentu meskipun sebenarnya tidak merasa nyaman, hanya karena takut dianggap tidak punya pergaulan.
Di media sosial, kebutuhan semacam ini bahkan bisa semakin terlihat. Jumlah “like”, komentar, pengikut, dan respons dari orang lain kadang berubah menjadi ukuran tidak resmi tentang seberapa berharga seseorang. Padahal, angka-angka tersebut belum tentu mencerminkan nilai diri yang sebenarnya. Kita akhirnya bisa terjebak dalam sebuah paradoks: semakin keras berusaha mendapatkan pengakuan, semakin besar pula ketergantungan kita terhadap penilaian orang lain.
EKSISTENSI BUKAN BERARTI HARUS SELALU MENJADI PUSAT PERHATIAN
Lalu, bagaimana sebenarnya cara menjaga eksistensi diri tanpa kehilangan jati diri?, mungkin jawabannya bukan dengan berusaha membuat semua orang memperhatikan kita. Kita tidak harus selalu menjadi orang yang paling menonjol di ruangan. Tidak harus selalu berbicara paling keras. Tidak harus memiliki pencapaian yang lebih tinggi daripada orang lain. Dan tentu saja, kita tidak perlu terus-menerus membuktikan bahwa diri kita layak dihargai. Eksistensi yang sehat justru berawal dari kemampuan untuk mengenali nilai diri sendiri. Kita tahu siapa diri kita, apa yang kita miliki, apa yang bisa kita berikan, dan apa yang ingin kita perjuangkan. Dengan begitu, penghargaan dari orang lain tetap menyenangkan, tetapi tidak menjadi satu-satunya sumber harga diri. Di sinilah kontribusi menjadi penting. Seseorang mungkin tidak terkenal, tetapi kehadirannya selalu dirasakan manfaatnya. Ia membantu tetangga ketika membutuhkan, bersedia mendengarkan teman yang sedang mengalami masalah, mengajar dengan sungguh-sungguh, bekerja dengan jujur, atau berkarya sesuai dengan kemampuannya.
Tidak semua kontribusi harus besar. Terkadang, menjadi orang yang dapat diandalkan saja sudah merupakan bentuk kebermaknaan. Pengakuan yang lahir dari keadaan seperti ini terasa berbeda. Kita tidak mendapatkannya karena memaksa orang lain untuk memperhatikan kita, tetapi karena keberadaan kita memang memberikan arti bagi lingkungan. Itulah bentuk eksistensi yang lebih sehat: hadir, memberi manfaat, dan tetap menjadi diri sendiri.
BELAJAR MENGAKUI KEBERADAAN ORANG LAIN
Ada satu hal menarik tentang kebutuhan untuk diakui, hampir semua orang mengalaminya. Kita ingin didengar, tetapi orang lain juga ingin didengar. Kita ingin dihargai, tetapi orang lain pun memiliki kebutuhan yang sama. Kita ingin dianggap penting, sementara orang-orang di sekitar kita juga sedang mencari kepastian bahwa diri mereka memiliki tempat. Karena itu, mungkin terbaik untuk membangun eksistensi bukan hanya dengan bertanya, “Bagaimana agar saya diakui?”, tetapi juga dengan mulai bertanya, “Sudahkah saya mengakui keberadaan orang lain?” Menyapa tetangga, mendengarkan cerita teman tanpa buru-buru menghakimi, menghargai pendapat orang lain, mengucapkan terima kasih, atau memberikan apresiasi sederhana mungkin terlihat kecil. Namun, bagi orang yang menerimanya, tindakan itu bisa memiliki makna yang jauh lebih besar. Sebab terkadang, seseorang tidak membutuhkan nasihat panjang. Ia hanya ingin merasa bahwa dirinya dilihat.
KITA SEMUA INGIN MERASA BAHWA KEHADIRAN KITA BERARTI
Pada akhirnya, kebutuhan untuk diakui bukanlah sesuatu yang harus kita malu-maluin. Ia merupakan bagian dari pengalaman manusia. Yang perlu kita waspadai adalah ketika pengakuan dari luar menjadi satu-satunya sumber untuk menentukan nilai diri. Kita perlu belajar membedakan antara “ingin dihargai” dan “bergantung sepenuhnya pada penghargaan orang lain”. Yang pertama adalah kebutuhan manusiawi. Yang kedua dapat membuat kita kehilangan kebebasan untuk menjadi diri sendiri.
Karena itu, eksistensi yang paling sehat bukanlah tentang seberapa banyak orang yang mengetahui nama kita, seberapa sering kita dipuji, atau seberapa ramai orang memberikan perhatian. Eksistensi yang lebih dalam adalah ketika kita mampu berkata kepada diri sendiri: “Saya ada, saya memiliki nilai, saya memiliki sesuatu untuk diberikan”.
Dan ketika kita mampu merasakan itu, kita tidak lagi harus berteriak agar dunia melihat kita. Kita cukup hadir dengan tulus. Karena pada akhirnya, ruang sosial di sekitar kita memang seperti cermin. Jika kita ingin dihargai, kita perlu belajar menghargai. Jika kita ingin didengar, kita perlu belajar mendengar. Dan jika kita ingin keberadaan kita diakui, kita pun perlu belajar mengakui keberadaan orang lain. Barangkali, di balik semua keinginan manusia untuk dilihat, didengar, dan dihargai, sebenarnya ada satu kebutuhan yang sangat sederhana: Kita hanya ingin diyakinkan bahwa kita ada, kita berarti, dan kita tidak sendirian.
Biodata Penulis
Adih, M.Pd.I.
Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) dan Dosen Bimbingan & Konseling Pendidikan Islam (BKPI) Sekolah Tinggi Pesantren Darunna’im (STPDN) Lebak-Banten.






















